Sabtu, 27 Agustus 2016

KEBIJAKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA


kebijakan pendidikan KEBIJAKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA A. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan sesuatu yang mesti ada dalam hidup dan kehidupan dan ia adalah way of live, suatu jalan hidup manusia. Dan ada asumsi life is education and eduction is life dalam arti pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan maka pendidikan Islam pada dasarnya hendak mengembangkan pandangan hidup islami yang diharapkan tercermin dalam sikap hidup dan keterampilan hidup orang Islam. Pendidikan Islam di Indonesia telah berjalan sesuai dengan masuknya ke Indonesia. Islam masuk ke Indonesia bersamaan dengan datangnya para penyebar agama melalui jalur perdagangan. Para penyebar agama yang notabene sebagai pedagang tersebut, telah melakukan hubungan dan komunikasi dengan para pribumi di Bandar-bandar yang didatangi oleh pedagang, dengan membawa nilai-nilai islam dalam hidup dan kehidupannya, sehingga banyak dari warga pribumi yang memeluk agama Islam. Islam tidak hanya dalam teori-teori saja, namun diaplikasikan oleh para penyebar agama dan berkembang untuk menanamkan agama kepada anak keturunannya. Pendidikan sebagai sarana untuk mengkristalisasikan nilai-nilai agama pada generasi baru yang akan menggantikan para praktisi-praktisi pada zamannya. Pendidikan Islam yang berkembang dari awal masuknya ke Indonesia, telah membawa perubahan besar bagi bangsa Indonesia. Pesantren merupakan sarana pendidikan Islam yang pertama ada di Indonesia. Pendidikan Islam telah berlangsung lama dan telah mampu mengambil hati para masyarakat, sehingga penduduk Indonesia hampir 100 % menganut agama Islam, hal ini merupakan salah satu jasa dari pendidikan. Waktu tetap berjalan dan pendidikan Islam telah menempati posisi kedua setelah pendidikan umum.

BACAAN SHALAT


http://infobergelora.blogspot.co.id/2013/02/bacaan-shalat-lengkap-mulai-dari-niat.html Bacaan shalat lengkap (mulai dari niat hingga salam) UPDATE 1. Niat Sholat Subuh 2 Raka'at USHOLLII FARDLOLSH SHUBHI ROK'ATAINI MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (IMAAMAN/MA'MUUMAN) LILLAAHI TA'AALAA. Artinya : Aku sengaja sholat fardlu shubuh dua raka'at menghadap qiblat (sebagai imam/sebagai makmum) karena Allah. 2. Niat Sholat Dhuhur 4 Raka'at USHOLLII FARDLODH DHUHRI ARBA'A ROKA'AATIN MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (IMAAMAN/MA'MUUMAN) LILLAAHI TA'AALAA. Artinya : Aku sengaja sholat fardlu dhuhur empat raka'at menghadap qiblat (sebagai imam/sebagai makmum) karena Allah. 3. Niat Sholat Ashar 4 Raka'at USHOLLII FARDLOL 'ASHRI ARBA'A ROKA'AATIN MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (IMAAMAN/MA'MUUMAN) LILLAAHI TA'AALAA. Artinya : Aku sengaja sholat fardlu ashar empat raka'at menghadap qiblat (sebagai imam/sebagai makmum) karena Allah. 4. Niat Sholat Magrib 3 Raka'at USHOLLII FARDLOL MAGHRIBI TSALAATSA ROKA'AATIN MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (IMAAMAN/MA'MUUMAN) LILLAAHI TA'AALAA. Artinya : Aku sengaja sholat fardlu maghrib tiga raka'at menghadap qiblat (sebagai imam/sebagai makmum) karena Allah. 5. Niat Sholat Isya 4 Raka'at USHOLLII FARDLOL 'ISYAA-I ARBA'A ROKA'AATIN MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (IMAAMAN/MA'MUUMAN) LILLAAHI TA'AALAA. Artinya : Aku sengaja sholat fardlu isya empat raka'at menghadap qiblat (sebagai imam/sebagai makmum) karena Allah *Jika melaksanakan sholat berjamaah sebagai imam maka tambahkan imaaman namun jika sholat jamaah sebagai makmum tambahkan ma'muuman. -Takbiratul Ihram- ALLAHU AKBAR Artitnya: Allah Maha Besar - Bacaan Do’a Iftitah - ALLAHU AKBAR, KABIERAW WALHAMDULILLAHI KATSIERA. WASUBHANALLAHI BUKRATAW WA-ASHILA. WAJJAHTU WAJHIA LILLADZIE FATHARAS SAMAWATI WAL ARDLA HANIEFAN MUSLIMAWWAMA ANAMINAL MUSYRIEKIEN. INNA SHALATI WANUSUKI WAMAHYAYA WAMAMATI LILLAHI RABBIL’ALAMIEN. LASYARAKIEKA LAHU WABIDZALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIEN. Artinya : Maha besar Allah, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Maha Suci Allah pagi dan sore. Saya menghadapkan muka saya kepada Tuhan pencipta langit dan bumi dengan rendah hati dan sejujur-jujurnya sebagai seorang muslim, bukan sebagai seorang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagiNya. Begitulah saya diperintah, dan saya sebahagian dari orang islam. - Surat Al Fatihah - BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIM. ALHAMDU LILLAHI-ROBBIL ‘ALAMIN. ARRAHMA NIRRAHIM. MALIKI YAUMIDDIN. IYYAKA NA’BUDU WAIYYA-KANASTA’IN IHDINASH-SHIRA-THAL MUSTAQIM, SHIRATHALLADZINA AN’AMTA’ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUBI ‘ALAIHIM. WALADL DLAALLIIN, AMIN Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang pengasih dan penyayang. Yang menguasai hari kemudian. Pada-Mulah aku menyembah, dan kepada-Mulah aku meminta pertolongan. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Bagaikan jalannya orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat. Bukan jalan mereka yang pernah Engkau murkai,atau jalannya orang-orang yang sesat. -Membaca Surat Al-Quran- Bagi yang sholat sendirian atau menjadi imam setelah membaca alfatiha di sunahkan membaca surat Al-Quran - Ruku - SUBHAANA RABBIYAL ADZIIMI WABIHAMDIHII ( 3 kali ) Artinya : Mahasuci Allah Maha Agung serta memujilah aku kepadaNya. - I’tidal - SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH. Artinya : Allah mendengar orang yang memujiNya. Pada waktu berdiri tegak ( I’tidal ) terus membaca : RABBANAA LAKAL HAMDU MIL USSAMAWAATI WAMI UL ARDLI WAMIL UMAA SYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU Artinya : Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu - Sujud - SUBHAANA RABBIYAL A’LAA WABIHAMDIHII ( 3 kali ) Artinya : Maha Suci Allah, serta memujilah aku kepada-Nya. - Duduk diantara dua sujud - RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINI WA’FUANNII. Artinya : Ya Allah, ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku dan cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajat kami dan berilah rizqi kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku. - Tahiyat awal - ATTAHIYYATUL MUBARAKAATUSH SHOLAWAATUTH THAYYIBATU LILLAAH, ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH, ASSALAAMU’ALAINA WA’ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHOOLIHIIN. ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH, WAASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULULLAAH. ALLAHHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAIDINA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI SAIDINA MUHAMMAD. Artinya : Ya Allah, segala penghormatan, keberkahan, sholawat dan kebaikan hanya milik-Mu ya Allah,- Wahai Nabi selamat sejahatera semoga tercurah kepada Engkau wahai Nabi Muhammad, – semoga juga Rahmat Allah dan Berkah-Nya pun tercurah kepadamu wahai Nabii,- Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan hamba-hamba-Mu yang sholeh. – Ya Allah aku bersumpah dan berjanji bahwa tiada ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau ya Allah, dan aku bersumpah dan berjanji sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan-Mu Ya Allah. – Ya Allah, limpahkan shalawat-Mu kepada Nabi Muhammad dan limpahkan juga shalawat kepada keluarga Nabi Muhammad. - Tahiyat akhir - Setelah baca seperti tahiyat awal dilanjutkan dengan ...KAMAA SHOLAITA ‘ALA SAIDINA IBRAHIIM WA ‘ALA AALIHI SAIDINA IBRAHIIM, WA BAARIK ‘ALA SAIDINA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI SAIDINA MUHAMMAD, KAMAA BAARAKTA ‘ALA SAIDINA IBRAHIIM WA ‘ALA AALIHI SAIDINA IBRAHIIM, FIL ALAMINA INNAKA HAMIIDUM MAJIID. Artinya : …sebagaimana Engkau telah limpahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan juga kepada keluarga Nabi Ibrahim, dan berkatilah Ya Allah Nabi Muhammad dan berkatilah juga keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati Nabi Ibrahim dan juga kepada keluarga Nabi Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Ya Allah Maha Terpuji lagi Maha Mulia. - Salam - ASSALAAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAAHI. https://id.wikipedia.org/wiki/Bacaan_dalam_salat Bacaan dalam salat Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Artikel ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia. Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam, atau dengan merapikan tata letak dari artikel ini. Tulisan yang tidak dirapikan dalam jangka waktu yang ditentukan akan dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus. Untuk keterangan lebih lanjut, klik [tampilkan] di bagian kanan.[tampilkan] Ibadah salat yang dijalankan umat Islam memiliki bacaan-bacaan tertentu yang dituntunkan oleh ajaran Islam. Bacaan-bacaan tersebut berupa doa dan dzikir yang lafal-lafalnya berasal dari Nabi Muhammad . Bacaan-bacaan ini dipelajari dalam ilmu fikih. Daftar isi [sembunyikan] • 1Takbiratul ihram • 2Ta'awudz • 3Iftitah • 4Referensi • 5Pranala luar Takbiratul ihram[sunting | sunting sumber] Yang dimaksud takbiratul ihram adalah pengucapan "Allahu akbar" sambil mengangkat tangan ketika memulai salat. Ta'awudz[sunting | sunting sumber] Ta'awudz adalah doa yang dibaca setelah takbiratul ihram yang isinya adalah meminta perlindungan dari setan. Bacaannya ialah : اَعُوذُبِاللَّهِ مِنَ الشَيطَانِ الرَّجِيم A`ūdzu billāhi minas syaithaanirrajiim Iftitah[sunting | sunting sumber] Iftitah atau Istiftah adalah doa yang dibaca ketika salat, antara takbiratul ihram dan ta'awudz sebelum membaca surat Al Fatihah. Ada beberapa macam jenis doa istiftah yang dibaca oleh Nabi Muhammad dan sahabatnya, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih. Berikut ini beberapa doa iftitah yang shahih, Pertama اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin”[1] Doa ini biasa dibaca Rasulullah dalam salat fardhu. Doa ini adalah doa yang paling shahih di antara doa istiftah lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (2/183). Kedua وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ “Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu” [2] Doa ini biasa dibaca Rasulullah dalam salat fardhu dan salat sunnah. Ketiga اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ “Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji”.[3] Keempat إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ “Sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. [4] Kelima سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ “Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau” [5] Doa ini juga diriwayatkan dari sahabat lain secara marfu', yaitu dari 'Aisyah, Anas bin Malik dan Jabir Radhiallahu'anhum. Demikianlah, doa ini banyak diamalkan oleh para sahabat Nabi, sehingga para ulama pun banyak yang lebih menyukai untuk mengamalkan doa ini dalam salat. Selain itu doa ini cukup singkat dan sangat tepat bagi imam yang mengimami banyak orang yang kondisinya lemah, semisal anak-anak dan orang tua. Terdapat beberapa doa iftitah lain yang sahih berdasarkan penelitian Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albanirahimahullah terhadap dalil-dalil doa istiftah, yang tercantum dalam kitab dia Sifatu Salatin Nabi : Referensi[sunting | sunting sumber] 1. ^ HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98 2. ^ HR. Muslim 2/185 – 186 3. ^ HR. An Nasa-i, 1/143. Di shahihkan Al Albani dalamSifatu Salatin Nabi 1/251 4. ^ HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112 5. ^ HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa'id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Salatin Nabi 1/252

ASMAUL HUSNA


https://id.wikipedia.org/wiki/Asma%27ul_husna Asma'ul husna Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Dialihkan dari Asmaul husna) Artikel ini adalah bagian dari seri tentang: Tuhan dalam Islam Allah dalam Kaligrafi Arab Daftar[tampilkan] • Kategori • Portal Islam • L • B • S Artikel ini adalah bagian dari seri tentang: Islam Rukun Iman[tampilkan] Rukun Islam[tampilkan] Teks dan hukum[tampilkan] Sejarah dan pemimpin[tampilkan] Denominasi[tampilkan] Budaya dan masyarakat[tampilkan] Topik terkait[tampilkan] Portal Islam • L • B • S Asma'ul husna Dalam agama Islam, Asmaa'ul husna (bahasa Arab: أسماء الله الحسنى, asmāʾ allāh al-ḥusnā) adalah nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berarti yang baik atau yang indah, jadi asma'ul husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah. Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi dengan sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak bolehmusyrik dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Allah ta'ala. Selain perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat pula perbedaan jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000 bahkan 4.000 nama, namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikatDzat Allah SWT yang harus dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang beriman seperti Nabi Muhammad. Asma'ul husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah. Para ulama berpendapat bahwa kebenaran adalah konsistensi dengan kebenaran yang lain. Dengan cara ini, umat Muslim tidak akan mudah menulis "Allah adalah ...", karena tidak ada satu hal pun yang dapat disetarakan dengan Allah, akan tetapi harus dapat mengerti dengan hati dan keterangan Al-Qur'an tentang Allah ta'ala. Pembahasan berikut hanyalah pendekatan yang disesuaikan dengan konsep akalkita yang sangat terbatas ini. Semua kata yang ditujukan pada Allah harus dipahami keberbedaannya dengan penggunaan wajar kata-kata itu. Allah itu tidak dapat dimisalkan atau dimiripkan dengan segala sesuatu, seperti tercantum dalam surat Al-Ikhlas. “ "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhanyang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (Al-Ikhlas 112:1-4) ” Para ulama menekankan bahwa Allah adalah sebuah nama kepada Dzat yang pasti ada namanya. Semua nilai kebenaran mutlak hanya ada (dan bergantung) pada-Nya. Dengan demikian, Allah Yang Memiliki Maha Tinggi. Tapi juga Allah Yang Memiliki Maha Dekat. Allah Memiliki Maha Kuasa dan juga Allah Maha Pengasih danMaha Penyayang. Sifat-sifat Allah dijelaskan dengan istilah Asmaaul Husna, yaitu nama-nama, sebutan atau gelar yang baik. Daftar isi [sembunyikan] • 1Dalil • 2Asma Al-Husna • 3Referensi • 4Pranala luar Dalil[sunting | sunting sumber] Berikut adalah beberapa terjemahan dalil yang terkandung di dalam Al-Qur'an danHadits tentang asmaa'ul husna: • "Dialah Allah, tidak ada Tuhan/Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmaa'ul husna (nama-nama yang baik)." (Thaa-Haa 20:8)[1] • Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai alasmaa'ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" (Al-Israa' 17:110)[1] • "Allah memiliki Asmaa' ulHusna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu..." (Al-A'raaf :180)[1] Asma Al-Husna[sunting | sunting sumber] No. Nama Arab Indonesia Allah الله Allah 1 Ar Rahman الرحمن Yang Maha Pengasih 2 Ar Rahiim الرحيم Yang Maha Penyayang 3 Al Malik الملك Yang Maha Merajai (bisa di artikan Raja dari semua Raja) 4 Al Quddus القدوس Yang Maha Suci 5 As Salaam السلام Yang Maha Memberi Kesejahteraan 6 Al Mu`min المؤمن Yang Maha Memberi Keamanan 7 Al Muhaimin المهيمن Yang Maha Mengatur 8 Al `Aziiz العزيز Yang Maha Perkasa 9 Al Jabbar الجبار Yang Memiliki Mutlak Kegagahan 10 Al Mutakabbir المتكبر Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran 11 Al Khaliq الخالق Yang Maha Pencipta 12 Al Baari` البارئ Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan) 13 Al Mushawwir المصور Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya) 14 Al Ghaffaar الغفار Yang Maha Pengampun 15 Al Qahhaar القهار Yang Maha Memaksa 16 Al Wahhaab الوهاب Yang Maha Pemberi Karunia 17 Ar Razzaaq الرزاق Yang Maha Pemberi Rezeki 18 Al Fattaah الفتاح Yang Maha Pembuka Rahmat 19 Al `Aliim العليم Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu) 20 Al Qaabidh القابض Yang Maha Menyempitkan (makhluknya) 21 Al Baasith الباسط Yang Maha Melapangkan (makhluknya) 22 Al Khaafidh الخافض Yang Maha Merendahkan (makhluknya) 23 Ar Raafi` الرافع Yang Maha Meninggikan (makhluknya) 24 Al Mu`izz المعز Yang Maha Memuliakan (makhluknya) 25 Al Mudzil المذل Yang Maha Menghinakan (makhluknya) 26 Al Samii` السميع Yang Maha Mendengar 27 Al Bashiir البصير Yang Maha Melihat 28 Al Hakam الحكم Yang Maha Menetapkan 29 Al `Adl العدل Yang Maha Adil 30 Al Lathiif اللطيف Yang Maha Lembut 31 Al Khabiir الخبير Yang Maha Mengenal 32 Al Haliim الحليم Yang Maha Penyantun 33 Al `Azhiim العظيم Yang Maha Agung 34 Al Ghafuur الغفور Yang Maha Memberi Pengampunan 35 As Syakuur الشكور Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai) 36 Al `Aliy العلى Yang Maha Tinggi 37 Al Kabiir الكبير Yang Maha Besar 38 Al Hafizh الحفيظ Yang Maha Memelihara 39 Al Muqiit المقيت Yang Maha Pemberi Kecukupan 40 Al Hasiib الحسيب Yang Maha Membuat Perhitungan 41 Al Jaliil الجليل Yang Maha Luhur 42 Al Kariim الكريم Yang Maha Pemurah 43 Ar Raqiib الرقيب Yang Maha Mengawasi 44 Al Mujiib المجيب Yang Maha Mengabulkan 45 Al Waasi` الواسع Yang Maha Luas 46 Al Hakiim الحكيم Yang Maha Maka Bijaksana 47 Al Waduud الودود Yang Maha Mengasihi 48 Al Majiid المجيد Yang Maha Mulia 49 Al Baa`its الباعث Yang Maha Membangkitkan 50 As Syahiid الشهيد Yang Maha Menyaksikan 51 Al Haqq الحق Yang Maha Benar 52 Al Wakiil الوكيل Yang Maha Memelihara 53 Al Qawiyyu القوى Yang Maha Kuat 54 Al Matiin المتين Yang Maha Kukuh 55 Al Waliyy الولى Yang Maha Melindungi 56 Al Hamiid الحميد Yang Maha Terpuji 57 Al Muhshii المحصى Yang Maha Mengalkulasi (Menghitung Segala Sesuatu) 58 Al Mubdi` المبدئ Yang Maha Memulai 59 Al Mu`iid المعيد Yang Maha Mengembalikan Kehidupan 60 Al Muhyii المحيى Yang Maha Menghidupkan 61 Al Mumiitu المميت Yang Maha Mematikan 62 Al Hayyu الحي Yang Maha Hidup 63 Al Qayyuum القيوم Yang Maha Mandiri 64 Al Waajid الواجد Yang Maha Penemu 65 Al Maajid الماجد Yang Maha Mulia 66 Al Wahid الواحد Yang Maha Tunggal 67 Al Ahad الاحد Yang Maha Esa 68 As Shamad الصمد Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta 69 Al Qaadir القادر Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan 70 Al Muqtadir المقتدر Yang Maha Berkuasa 71 Al Muqaddim المقدم Yang Maha Mendahulukan 72 Al Mu`akkhir المؤخر Yang Maha Mengakhirkan 73 Al Awwal الأول Yang Maha Awal 74 Al Aakhir الأخر Yang Maha Akhir 75 Az Zhaahir الظاهر Yang Maha Nyata 76 Al Baathin الباطن Yang Maha Ghaib 77 Al Waali الوالي Yang Maha Memerintah 78 Al Muta`aalii المتعالي Yang Maha Tinggi 79 Al Barru البر Yang Maha Penderma (Maha Pemberi Kebajikan) 80 At Tawwaab التواب Yang Maha Penerima Tobat 81 Al Muntaqim المنتقم Yang Maha Pemberi Balasan 82 Al Afuww العفو Yang Maha Pemaaf 83 Ar Ra`uuf الرؤوف Yang Maha Pengasuh 84 Malikul Mulk مالك الملك Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta) 85 Dzul Jalaali Wal Ikraam ذو الجلال و الإكرام Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan 86 Al Muqsith المقسط Yang Maha Pemberi Keadilan 87 Al Jamii` الجامع Yang Maha Mengumpulkan 88 Al Ghaniyy الغنى Yang Maha Kaya 89 Al Mughnii المغنى Yang Maha Pemberi Kekayaan 90 Al Maani المانع Yang Maha Mencegah 91 Ad Dhaar الضار Yang Maha Penimpa Kemudharatan 92 An Nafii` النافع Yang Maha Memberi Manfaat 93 An Nuur النور Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya) 94 Al Haadii الهادئ Yang Maha Pemberi Petunjuk 95 Al Badii' البديع Yang Maha Pencipta Yang Tiada Bandingannya 96 Al Baaqii الباقي Yang Maha Kekal 97 Al Waarits الوارث Yang Maha Pewaris 98 Ar Rasyiid الرشيد Yang Maha Pandai 99 As Shabuur الصبور Yang Maha Sabar Asmaul Husna sebagai nama orang Berikut ini contoh nama orang yang diambil dari Asmaul Husna: • Rahmaan, seperti Abdurrahman As-Sudais. • Salaam, seperti Salam Fayyad. • Jabbaar, seperti Kareem Abdul-Jabbar. • Hakiim, seperti Abdul Hakim Garuda Nusantara. • Ra'oof, seperti Ra'ouf Mus'ad. • Malik, seperti Zayn Malik. Referensi[sunting | sunting sumber] 1. ^ a b c Allah ta'ala: "Al Qur'an", Madinah, 2005 Pranala luar

NU


https://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_%27Ulama Nahdlatul 'Ulama Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Dialihkan dari Nahdlatul Ulama) Nahdlatul 'Ulama Lambang Jam'iyyah Nahdlatul 'Ulama Tanggal pembentukan 16 Rajab 1344 (31 Januari 1926) Jenis Organisasi Tujuan Keagamaan dan sosial (Islam) Kantor pusat DKI Jakarta, Indonesia Wilayah layanan Indonesia Jumlah anggota 85 juta (2014)[1][2] Rais Aam Syuriah Dr.(HC).KH. Ma'ruf Amin Ketua Umum Tanfidziyah Dr. K.H. Said Aqil Siradj, MA Situs web Situs web resmi Nahdlatul 'Ulama (Kebangkitan 'Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam besar di Indonesia.[3]Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidangpendidikan, sosial, dan ekonomi. Daftar isi [sembunyikan] • 1Sejarah • 2Anggaran Dasar Utama • 3Paham Keagamaan • 4Daftar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama o 4.1Basis Pendukung • 5Organisasi o 5.1Tujuan o 5.2Usaha o 5.3Struktur Pengurus o 5.4Lembaga o 5.5Lajnah o 5.6Badan Otonom • 6NU dan Politik • 7Partai Penerus • 8Lihat pula • 9Rujukan • 10Pranala luar Sejarah[sunting | sunting sumber] Akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan terus menyebar - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan. Merespon kebangkitan nasional tersebut, Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dibentuk pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Berangkat dari munculnya berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, karena tidak terakomodir kyai dari kalangan tradisional untuk mengikuti konperensi Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah akhirnya muncul kesepakatan dari para ulama pesantren untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) di Kota Surabaya. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasjim Asy'ari sebagai Rais Akbar. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi berdirinya NU. Di antarafaktor itu adalah perkembangan dan pembaharuan pemikiran Islam yang menghendaki pelarangan segala bentuk amaliah kaum Sunni. Sebuah pemikiran agar umat Islam kembali pada ajaran Islam "murni", yaitu dengan cara umat islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab. Bagi para kiai pesantren, pembaruan pemikiran keagamaan sejatinya tetap merupakan suatu keniscayaan, namun tetap tidak dengan meninggalkan tradisi keilmuan para ulama terdahulu yang masih relevan. Untuk itu, Jam'iyah Nahdlatul Ulama cukup mendesak untuk segera didirikan. Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasjim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalamkhittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik. Anggaran Dasar Utama[sunting | sunting sumber] Organisasi yang resmi tentu membutuhkan pijakan dan dasar yang kuat untuk melindungi keberlangsungan pada masa yang akan datang. Menyadari hal-hal tersebut maka disusunlah Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama sebagai berikut. BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 Jam’iyah ini bernama Nahdlatul Ulama disingkat NU. Didirikan di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dgn tanggal 31 Januari 1926 M untuk waktu yang tidak terbatas. Pasal 2 Pengurus Besar Jam’iyah Nahdlatul Ulama berkedudukan di ibu kota Negara Republik Indonesia. BAB II AQIDAH/ASAS Pasal 3 Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyah Diniyah islamiah beraqidah/berasas Islam menurut paham Ahli Sunnah wal-Jamaah dan menganut salah satu dari empat mashab empat Hanafi Maliki Syafii dan Hambali. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Ketuhanan Yang Maha Esa kemanusiaan yg adil dan berdab persatuan Indonesia kerakyatan yg dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. BAB III LAMBANG Pasal 4 Lambing Nahdlatul Ulama berupa gambar bola dunia yg dilingkari tali tersimpul dikitari oleh 9 bintang 5 bintang terletak melingkari di atas garis khatulistiwa yg tersebar di antaranya terletak di tengah atas sedang 4 bintang lainnya terletak melingkar di bawah khatulistiwa dgn tulisan NAHDLATUL ULAMA dalam huruf Arab yg melintang dari sebelah kanan bola dunia ke sebelah kiri; semua terlukis dgn warna putih di atas dasar hijau.[4] Paham Keagamaan[sunting | sunting sumber] NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber hukum Islam bagi NU tidak hanya al-Qur'an,sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang teologi/ Tauhid/ketuhanan. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: Imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yang lain: ImamHanafi, Imam Maliki,dan Imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Syeikh Juneid al-Bagdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat. Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. Daftar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama[sunting | sunting sumber] Berikut ini adalah daftar Rais Am Syuriah (Dewan Penasehat) dan Ketua Umum Tanfidziyah (Dewan Pelaksana) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama: No Rais Aam Syuriyah Ketua Umum Tanfidziyah Awal Akhir Foto Nama Foto Nama 1 KH. Mohammad Hasyim Asy'arie KH. Hasan Gipo 1926 1947 2 K.H. Abdul Wahab Chasbullah 1947 1952 KH. Idham Chalid 1952 1971 3 KH. Bisri Syansuri 1972 1980 4 KH. Muhammad Ali Maksum 1980 1984 5 KH. Achmad Muhammad Hasan Siddiq Dr (HC). KH. Abdurrahman Wahid 1984 1991 6 KH. Ali Yafie (pjs) 1991 1992 7 KH. Mohammad Ilyas Ruhiat 1992 1999 8 Dr (HC).KH. Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz KH. Hasyim Muzadi 1999 2010 Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A. 2010 2014 9 KH. Ahmad Mustofa Bisri 2014 2015 10 KH. Ma'ruf Amin 2015 Petahana Basis Pendukung[sunting | sunting sumber] Dalam menentukan basis pendukung atau warga NU ada beberapa istilah yang perlu diperjelas, yaitu: anggota, pendukung atau simpatisan, serta Muslim tradisionalis yang sepaham dengan NU. Jika istilah warga disamakan dengan istilah anggota, maka sampai hari ini tidak ada satu dokumen resmipun yang bisa dirujuk untuk itu. Hal ini karena sampai saat ini tidak ada upaya serius di tubuh NU di tingkat apapun untuk mengelola keanggotaannya. Apabila dilihat dari segi pendukung atau simpatisan, ada dua cara melihatnya. Dari segi politik, bisa dilihat dari jumlah perolehan suara partai-partai yang berbasis atau diasosiasikan dengan NU, seperti PKBU, PNU, PKU, Partai SUNI, dan sebagian dari PPP. Sedangkan dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang mendukung dan mengikuti paham kegamaan NU. Maka dalam hal ini bisa dirujuk hasil penelitian Saiful Mujani (2002) yaitu berkisar 48% dari Muslim santri Indonesia. Suaidi Asyari[5] memperkirakan ada sekitar 51 juta dari Muslim santri Indonesia dapat dikatakan pendukung atau pengikut paham keagamaan NU. Jumlah keseluruhan Muslim santri yang disebut sampai 80 juta atau lebih, merupakan mereka yang sama paham keagamaannya dengan paham kegamaan NU. Namun belum tentu mereka ini semuanya warga atau mau disebut berafiliasi dengan NU. Berdasarkan lokasi dan karaktaristiknya, mayoritas pengikut NU terdapat di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi danSumatera. Pada perkembangan terakhir terlihat bahwa pengikut NU mempunyai profesi beragam, meskipun sebagian besar di antara mereka adalah rakyat jelata baik di perkotaan maupun di pedesaan. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi, karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, serta selain itu juga sama-sama sangat menjiwai ajaran ahlus sunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU. Basis pendukung NU ini cenderung mengalami pergeseran. Sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi, maka penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini. Belakangan ini NU sudah memiliki sejumlah doktor atau magister dalam berbagai bidang ilmu selain dari ilmu ke-Islam-an baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk negara-negara Barat. Namun para doktor dan magister ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengurus NU hampir di setiap lapisan kepengurusan NU. Organisasi[sunting | sunting sumber] Tujuan[sunting | sunting sumber] Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Usaha[sunting | sunting sumber] 1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan. 2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa. 3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan. 4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat. 5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat. Struktur Pengurus[sunting | sunting sumber] K.H. Hasyim Asyhari, Rais Akbar(ketua) pertama NU. 1. Pengurus Besar (tingkat Pusat). 2. Pengurus Wilayah (tingkat Provinsi), terdapat 33 Wilayah. 3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri, terdapat 439 Cabang dan 15 Cabang Istimewa. 4. Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan), terdapat 5.450 Majelis Wakil Cabang. 5. Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan), terdapat 47.125 Ranting. Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari: 1. Mustasyar (Penasihat) 2. Syuriyah (Pimpinan tertinggi) 3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian) Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari: 1. Syuriyah (Pimpinan tertinggi) 2. Tanfidziyah (Pelaksana harian) Keanggotaan berbasis di ranting dan di cabang untuk cabang istimewa. Lembaga[sunting | sunting sumber] Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu. Lembaga ini meliputi: 1. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LD-NU) [1] 2. Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) 3. Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPK-NU) 4. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LP-NU) 5. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPP-NU) 6. Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU)* (Indonesia) Lembaga Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama 7. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK-NU) 8. Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU) 9. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM-NU) 10. Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU) 11. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LK-NU) 12. Lembaga Badan Halal Nahdlatul Ulama (LBHNU) 13. Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI) Lajnah[sunting | sunting sumber] Merupakan pelaksana program Nahdlatul Ulama (NU) yang memerlukan penanganan khusus. Lajnah ini meliputi: 1. Lajnah Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU) 2. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LF-NU) 3. Lajnah Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) 4. Lajnah Auqaf Nahdlatul Ulama (LA-NU) 5. Lajnah Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZIS-NU) Badan Otonom[sunting | sunting sumber] Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu. Badan Otonom ini meliputi: 1. Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) 2. Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) 3. Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama (GP Ansor NU) 4. Fatayat Nahdlatul Ulama (Fatayat NU) 5. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) 6. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) 7. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) 8. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) 9. Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (IPSNU Pagar Nusa) 10. Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQH NU) 11. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) NU dan Politik[sunting | sunting sumber] Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masaDemokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Soekarno, dan bergabung dalam NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis) Nasionalis diwakili Partai Nasional Indonesia (PNI) Agama Partai Nahdhatul Ulama dan Partai Komunis Indonesia (PKI). NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk 'Kembali ke Khittah 1926' yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi. Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR. Partai Penerus[sunting | sunting sumber] • Partai Kebangkitan Bangsa /PKB • Partai Persatuan Pembangunan Lihat pula[sunting | sunting sumber] • Muhammadiyah • Persatuan Islam Tionghoa Indonesia • Majelis Ulama Indonesia • Majelis Mujahidin Indonesia • Islam di Indonesia • Indonesia • Pesantren • [VIDEO] Nahdlatul Ulama - Islam Yang Otentik Rujukan[sunting | sunting sumber] 1. ^ Ranjan Ghosh (4 January 2013). Making Sense of the Secular: Critical Perspectives from Europe to Asia. Routledge. pp. 202–. ISBN 978-1-136-27721-4. 2. ^ http://www.crwflags.com/fotw/flags/id_nu.html 3. ^ http://www.antaranews.com/berita/368105/gus-sholah-nu-masih-kalah-dengan-muhammadiyah 4. ^ Penjelasan badan organisasi NU AD NU 5. ^ Nalar Politik NU & Muhammadiyah, 2009 Pranala luar[sunting | sunting sumber] • (Indonesia) Situs Resmi Nahdlatul Ulama • (Indonesia) Abdurrahman Wahid • (Indonesia) Lembaga Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama- Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama [tampilkan] • L • B • S Partai politik peserta pemilihan umum legislatif Indonesia 1971 [sembunyikan] • L • B • S Partai politik Indonesia terdahulu Partai Nasional Indonesia (PNI) - Masyumi - Nahdlatul 'Ulama - Partai Komunis Indonesia (PKI) - Partai Tani Indonesia - Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia - Persatuan Indonesia Raya (PIR) - Gerakan Pilihan Sunda - Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI) - Partai Kebangsaan Indonesia Wanita (PARKIWA) - Persatuan Rakjat Desa (PRD) - Partai Rakyat Indonesia Merdeka (PRIM) - Partai Syarikat Islam Indonesia(PSII) - Partai Kristen Indonesia (Parkindo) - Partai Katolik - Partai Sosialis Indonesia (PSI) - Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia -Persatuan Tarbiyah Islamiyah - Partai Rakyat Nasional - Partai Buruh Indonesia (PBI) - Gerakan Pembela Panca Sila - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) - Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) - Partai Persatuan Dayak - Partai Rakyat Sosialis (Parsas) - Partai Angkatan Komunis Muda (Acoma) Portal:Politik - Daftar partai politik - Politik di Indonesia Kategori: • Organisasi Islam di Indonesia • Partai politik di Indonesia

NU


https://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_%27Ulama Nahdlatul 'Ulama Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Dialihkan dari Nahdlatul Ulama) Nahdlatul 'Ulama Lambang Jam'iyyah Nahdlatul 'Ulama Tanggal pembentukan 16 Rajab 1344 (31 Januari 1926) Jenis Organisasi Tujuan Keagamaan dan sosial (Islam) Kantor pusat DKI Jakarta, Indonesia Wilayah layanan Indonesia Jumlah anggota 85 juta (2014)[1][2] Rais Aam Syuriah Dr.(HC).KH. Ma'ruf Amin Ketua Umum Tanfidziyah Dr. K.H. Said Aqil Siradj, MA Situs web Situs web resmi Nahdlatul 'Ulama (Kebangkitan 'Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam besar di Indonesia.[3]Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidangpendidikan, sosial, dan ekonomi. Daftar isi [sembunyikan] • 1Sejarah • 2Anggaran Dasar Utama • 3Paham Keagamaan • 4Daftar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama o 4.1Basis Pendukung • 5Organisasi o 5.1Tujuan o 5.2Usaha o 5.3Struktur Pengurus o 5.4Lembaga o 5.5Lajnah o 5.6Badan Otonom • 6NU dan Politik • 7Partai Penerus • 8Lihat pula • 9Rujukan • 10Pranala luar Sejarah[sunting | sunting sumber] Akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan terus menyebar - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan. Merespon kebangkitan nasional tersebut, Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dibentuk pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Berangkat dari munculnya berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, karena tidak terakomodir kyai dari kalangan tradisional untuk mengikuti konperensi Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah akhirnya muncul kesepakatan dari para ulama pesantren untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) di Kota Surabaya. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasjim Asy'ari sebagai Rais Akbar. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi berdirinya NU. Di antarafaktor itu adalah perkembangan dan pembaharuan pemikiran Islam yang menghendaki pelarangan segala bentuk amaliah kaum Sunni. Sebuah pemikiran agar umat Islam kembali pada ajaran Islam "murni", yaitu dengan cara umat islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab. Bagi para kiai pesantren, pembaruan pemikiran keagamaan sejatinya tetap merupakan suatu keniscayaan, namun tetap tidak dengan meninggalkan tradisi keilmuan para ulama terdahulu yang masih relevan. Untuk itu, Jam'iyah Nahdlatul Ulama cukup mendesak untuk segera didirikan. Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasjim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalamkhittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik. Anggaran Dasar Utama[sunting | sunting sumber] Organisasi yang resmi tentu membutuhkan pijakan dan dasar yang kuat untuk melindungi keberlangsungan pada masa yang akan datang. Menyadari hal-hal tersebut maka disusunlah Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama sebagai berikut. BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 Jam’iyah ini bernama Nahdlatul Ulama disingkat NU. Didirikan di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dgn tanggal 31 Januari 1926 M untuk waktu yang tidak terbatas. Pasal 2 Pengurus Besar Jam’iyah Nahdlatul Ulama berkedudukan di ibu kota Negara Republik Indonesia. BAB II AQIDAH/ASAS Pasal 3 Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyah Diniyah islamiah beraqidah/berasas Islam menurut paham Ahli Sunnah wal-Jamaah dan menganut salah satu dari empat mashab empat Hanafi Maliki Syafii dan Hambali. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Ketuhanan Yang Maha Esa kemanusiaan yg adil dan berdab persatuan Indonesia kerakyatan yg dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. BAB III LAMBANG Pasal 4 Lambing Nahdlatul Ulama berupa gambar bola dunia yg dilingkari tali tersimpul dikitari oleh 9 bintang 5 bintang terletak melingkari di atas garis khatulistiwa yg tersebar di antaranya terletak di tengah atas sedang 4 bintang lainnya terletak melingkar di bawah khatulistiwa dgn tulisan NAHDLATUL ULAMA dalam huruf Arab yg melintang dari sebelah kanan bola dunia ke sebelah kiri; semua terlukis dgn warna putih di atas dasar hijau.[4] Paham Keagamaan[sunting | sunting sumber] NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber hukum Islam bagi NU tidak hanya al-Qur'an,sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang teologi/ Tauhid/ketuhanan. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: Imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yang lain: ImamHanafi, Imam Maliki,dan Imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Syeikh Juneid al-Bagdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat. Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. Daftar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama[sunting | sunting sumber] Berikut ini adalah daftar Rais Am Syuriah (Dewan Penasehat) dan Ketua Umum Tanfidziyah (Dewan Pelaksana) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama: No Rais Aam Syuriyah Ketua Umum Tanfidziyah Awal Akhir Foto Nama Foto Nama 1 KH. Mohammad Hasyim Asy'arie KH. Hasan Gipo 1926 1947 2 K.H. Abdul Wahab Chasbullah 1947 1952 KH. Idham Chalid 1952 1971 3 KH. Bisri Syansuri 1972 1980 4 KH. Muhammad Ali Maksum 1980 1984 5 KH. Achmad Muhammad Hasan Siddiq Dr (HC). KH. Abdurrahman Wahid 1984 1991 6 KH. Ali Yafie (pjs) 1991 1992 7 KH. Mohammad Ilyas Ruhiat 1992 1999 8 Dr (HC).KH. Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz KH. Hasyim Muzadi 1999 2010 Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A. 2010 2014 9 KH. Ahmad Mustofa Bisri 2014 2015 10 KH. Ma'ruf Amin 2015 Petahana Basis Pendukung[sunting | sunting sumber] Dalam menentukan basis pendukung atau warga NU ada beberapa istilah yang perlu diperjelas, yaitu: anggota, pendukung atau simpatisan, serta Muslim tradisionalis yang sepaham dengan NU. Jika istilah warga disamakan dengan istilah anggota, maka sampai hari ini tidak ada satu dokumen resmipun yang bisa dirujuk untuk itu. Hal ini karena sampai saat ini tidak ada upaya serius di tubuh NU di tingkat apapun untuk mengelola keanggotaannya. Apabila dilihat dari segi pendukung atau simpatisan, ada dua cara melihatnya. Dari segi politik, bisa dilihat dari jumlah perolehan suara partai-partai yang berbasis atau diasosiasikan dengan NU, seperti PKBU, PNU, PKU, Partai SUNI, dan sebagian dari PPP. Sedangkan dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang mendukung dan mengikuti paham kegamaan NU. Maka dalam hal ini bisa dirujuk hasil penelitian Saiful Mujani (2002) yaitu berkisar 48% dari Muslim santri Indonesia. Suaidi Asyari[5] memperkirakan ada sekitar 51 juta dari Muslim santri Indonesia dapat dikatakan pendukung atau pengikut paham keagamaan NU. Jumlah keseluruhan Muslim santri yang disebut sampai 80 juta atau lebih, merupakan mereka yang sama paham keagamaannya dengan paham kegamaan NU. Namun belum tentu mereka ini semuanya warga atau mau disebut berafiliasi dengan NU. Berdasarkan lokasi dan karaktaristiknya, mayoritas pengikut NU terdapat di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi danSumatera. Pada perkembangan terakhir terlihat bahwa pengikut NU mempunyai profesi beragam, meskipun sebagian besar di antara mereka adalah rakyat jelata baik di perkotaan maupun di pedesaan. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi, karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, serta selain itu juga sama-sama sangat menjiwai ajaran ahlus sunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU. Basis pendukung NU ini cenderung mengalami pergeseran. Sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi, maka penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini. Belakangan ini NU sudah memiliki sejumlah doktor atau magister dalam berbagai bidang ilmu selain dari ilmu ke-Islam-an baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk negara-negara Barat. Namun para doktor dan magister ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengurus NU hampir di setiap lapisan kepengurusan NU. Organisasi[sunting | sunting sumber] Tujuan[sunting | sunting sumber] Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Usaha[sunting | sunting sumber] 1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan. 2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa. 3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan. 4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat. 5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat. Struktur Pengurus[sunting | sunting sumber] K.H. Hasyim Asyhari, Rais Akbar(ketua) pertama NU. 1. Pengurus Besar (tingkat Pusat). 2. Pengurus Wilayah (tingkat Provinsi), terdapat 33 Wilayah. 3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri, terdapat 439 Cabang dan 15 Cabang Istimewa. 4. Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan), terdapat 5.450 Majelis Wakil Cabang. 5. Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan), terdapat 47.125 Ranting. Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari: 1. Mustasyar (Penasihat) 2. Syuriyah (Pimpinan tertinggi) 3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian) Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari: 1. Syuriyah (Pimpinan tertinggi) 2. Tanfidziyah (Pelaksana harian) Keanggotaan berbasis di ranting dan di cabang untuk cabang istimewa. Lembaga[sunting | sunting sumber] Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu. Lembaga ini meliputi: 1. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LD-NU) [1] 2. Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) 3. Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPK-NU) 4. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LP-NU) 5. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPP-NU) 6. Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU)* (Indonesia) Lembaga Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama 7. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK-NU) 8. Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU) 9. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM-NU) 10. Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU) 11. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LK-NU) 12. Lembaga Badan Halal Nahdlatul Ulama (LBHNU) 13. Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI) Lajnah[sunting | sunting sumber] Merupakan pelaksana program Nahdlatul Ulama (NU) yang memerlukan penanganan khusus. Lajnah ini meliputi: 1. Lajnah Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU) 2. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LF-NU) 3. Lajnah Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) 4. Lajnah Auqaf Nahdlatul Ulama (LA-NU) 5. Lajnah Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZIS-NU) Badan Otonom[sunting | sunting sumber] Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu. Badan Otonom ini meliputi: 1. Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) 2. Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) 3. Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama (GP Ansor NU) 4. Fatayat Nahdlatul Ulama (Fatayat NU) 5. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) 6. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) 7. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) 8. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) 9. Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (IPSNU Pagar Nusa) 10. Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQH NU) 11. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) NU dan Politik[sunting | sunting sumber] Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masaDemokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Soekarno, dan bergabung dalam NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis) Nasionalis diwakili Partai Nasional Indonesia (PNI) Agama Partai Nahdhatul Ulama dan Partai Komunis Indonesia (PKI). NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk 'Kembali ke Khittah 1926' yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi. Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR. Partai Penerus[sunting | sunting sumber] • Partai Kebangkitan Bangsa /PKB • Partai Persatuan Pembangunan Lihat pula[sunting | sunting sumber] • Muhammadiyah • Persatuan Islam Tionghoa Indonesia • Majelis Ulama Indonesia • Majelis Mujahidin Indonesia • Islam di Indonesia • Indonesia • Pesantren • [VIDEO] Nahdlatul Ulama - Islam Yang Otentik Rujukan[sunting | sunting sumber] 1. ^ Ranjan Ghosh (4 January 2013). Making Sense of the Secular: Critical Perspectives from Europe to Asia. Routledge. pp. 202–. ISBN 978-1-136-27721-4. 2. ^ http://www.crwflags.com/fotw/flags/id_nu.html 3. ^ http://www.antaranews.com/berita/368105/gus-sholah-nu-masih-kalah-dengan-muhammadiyah 4. ^ Penjelasan badan organisasi NU AD NU 5. ^ Nalar Politik NU & Muhammadiyah, 2009 Pranala luar[sunting | sunting sumber] • (Indonesia) Situs Resmi Nahdlatul Ulama • (Indonesia) Abdurrahman Wahid • (Indonesia) Lembaga Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama- Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama [tampilkan] • L • B • S Partai politik peserta pemilihan umum legislatif Indonesia 1971 [sembunyikan] • L • B • S Partai politik Indonesia terdahulu Partai Nasional Indonesia (PNI) - Masyumi - Nahdlatul 'Ulama - Partai Komunis Indonesia (PKI) - Partai Tani Indonesia - Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia - Persatuan Indonesia Raya (PIR) - Gerakan Pilihan Sunda - Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI) - Partai Kebangsaan Indonesia Wanita (PARKIWA) - Persatuan Rakjat Desa (PRD) - Partai Rakyat Indonesia Merdeka (PRIM) - Partai Syarikat Islam Indonesia(PSII) - Partai Kristen Indonesia (Parkindo) - Partai Katolik - Partai Sosialis Indonesia (PSI) - Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia -Persatuan Tarbiyah Islamiyah - Partai Rakyat Nasional - Partai Buruh Indonesia (PBI) - Gerakan Pembela Panca Sila - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) - Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) - Partai Persatuan Dayak - Partai Rakyat Sosialis (Parsas) - Partai Angkatan Komunis Muda (Acoma) Portal:Politik - Daftar partai politik - Politik di Indonesia Kategori: • Organisasi Islam di Indonesia • Partai politik di Indonesia

Abah Kyai Banten atau KH Ahmad Asy'ari 14 Maret 2011 · > Dikutip dari situs : http://muhdi.multiply.com/journal/item/127/KHOTBAH_NIKAH_ ** H.M.Khidlriyuddin adalah anak kyai Banten. Kyai Banten, seorang pejuang melawan penjajah Belanda pada pemberontakan petani th. 30 an, yang berasal dari desa Terate Udik, Cilegon dan berhijrah ke Lampung, Baturaja dan akhirnya menetap di Palembang, mendirikan mesjid Kyai Banten di dekat stasiun Kertapati Palembang. WebBlog Pakde Muhdi - KHOTBAH NIKAH Kalian dipeliharanya, dibesarkannya, dididiknya, disekolahkannya dan seterusnya sekarang ini kalian diantarkannya memasuki pintu gerbang pernikahan. MUHDI.MULTIPLY.COM

Senin, 30 Juli 2012

TASIKARDI BANTEN


November, 26 2011
A. Selayang Pandang
Kata Tasikardi merupakahttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0k1kHMQ253xZz4rIGSIgOg1WoZ09lw8XnsyMpBf00VKsVKfzf91Z9ngXsaAYJdCpdagp5bmy37PSktraWOApwT1p3cun3dYaCzlhjWpLI6hI_ls4e6H6NivxuJsO3H8RjLRuddsRNsgW8/s320/images.jpgn gabungan dua suku kata dari bahasa Sunda, yaitu tasik dan ardi yang artinya danau buatan. Menurut seja
rahnya, danau tersebut dibuat pada masa pemerintahan Panembahan Maulana Yusuf (1570-1580 M), sultan kedua Kesultanan Banten. Konon, danau yang luasnya mencapai 5 hektar dan bagian dasarnya dilapisi dengan ubin batu bata ini, dahulunya, merupakan tempat peristirahatan sultan-sultan Banten bersama keluarganya.
Pada masa itu, danau yang juga dikenal dengan Situ Kardi ini memiliki fungsi ganda. Selain sebagai penampung air dari Sungai Cibanten yang digunakan untuk mengairi areal persawahan, danau ini juga dimanfaatkan untuk memenuhi pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat sekitarnya. Air Danau Tasikardi dialirkan ke Keraton Surosowon melalui pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat berdiameter 2-40 sentimeter. Sebelum digunakan, air danau tersebut terlebih dahulu disaring dan diendapkan di tempat penyaringan khusus yang dikenal dengan sebutan pengindelan abang
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgH8uxumqkA1dmDcczjeiMh5MSKNwbxUeUp5hBJVO4-jpMVVDg1Fws7EK2VMfkwgK6xN1c6F6wpb1AfiJsZgsosBc-dgm9zYzZ-7wVMw4iN5-J7h28JRV_yl_YG-mvwPVNWzeRnVig34RF9/s320/danau_tasikardi_1.jpg
(penyaringan merah), pengindelan putih (penyaringan putih), dan pengindelan emas (penyaringan emas).
Dewasa ini, Danau Tasikardi, bersama Masjid Agung Banten, Keraton Surosowon, Keraton Kaibon, Pasar Lama Serang, Benteng Speelwijk, dan Vihara Avalokitesvara, masuk dalam Situs Banten Lama. Keberadaan situs-situs yang berada di Kabupaten Serang tersebut, selain menjadi saksi bisu tentang kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada masa lampau, juga merupakan tempat tujuan wisata sejarah yang mengasyikkan. Para pengelola biro perjalanan wisata pun telah mengemas situs-situs tersebut dalam satu paket wisata khusus, yaitu Kawasan Wisata Banten Lama.
B. Keistimewaan
Mengunjungi Danau Tasikardi yang konon tidak pernah kering dan tidak pernah meluap ini terbilang istimewa. Karena dengan mengunjungi danau tersebut, berarti wisatawan telah mengunjungi situs sejarah dan sekaligus obyek wisata yang memesona. Sebagai situs sejarah, keberadaan danau ini adalah bukti kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada masa lalu. Untuk ukuran saat itu, membuat waduk atau danau buatan untuk mengairi areal pertanian dan memenuhi kebutuhan pasokan air bagi penduduk merupakan terobosan yang cemerlang.
Sedangkan sebagai obyek wisata, danau ini merupakan salah satu tempat rekreasi yang cukup ramai dikunjungi pelancong, terutama pada akhir pekan dan hari-hari libur lainnya. Air danaunya yang tenang dan bergerak mengikuti hembusan angin, serta jejeran pepohonan rindang yang mengelilinginya, tepat sekali dipilih sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan bersama keluarga, atau sekadar untuk mencari inspirasi. Nuansa agraris yang tercermin dari hamparan luas areal persawahan yang mengitari danau, apalagi ketika memasuki musim tanam atau musim panen, kian melengkapi daya tarik kawasan ini. Pelancong dapat menikmati keindahan Danau Tasikardi dari bawah rindangnya pepohonan, shelter-shelter, atau sambil lesehan dihttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLzhZbUkQXeMdLMcALDrDx6fLXeMXqhlRomSDmlJAI1nTuo4G4gEwN28-0JyRvZ9JhUtQqZvMJkNUCNU8d1cISsXpSV-t6pwfR319KC-a9kX5Yx03oxozArY8H2G2vKTGmwt3YFjQEvHRk/s320/tk.jpg atas tikar yang disewakan.
Selain itu, danau ini adalah rumah bagi banyak ikan, sehingga wisatawan yang suka memancing dapat menyalurkan hobinya di sini. Sedangkan bagi wisatawan yang ingin “menyatu� dengan kawasan danau, dapat berkemah di camping ground yang luas dan aman yang terdapat di kawasan ini.
Bila anda bosan berada di tepi danau, anda dapat mendatangi sebuah pulau yang dahulunya merupakan tempat rekreasi keluarga kesultanan. Untuk mencapai pulau seluas 44 x 44 meter persegi yang berjarak sekitar 200 meter dari bibir danau ini, wisatawan dapat menyewa perahu. Di pulau tersebut, masih dapat dilihat sisa-sisa peninggalan Kesultanan Banten, seperti kolam penampungan air, pendopo, dan kamar mandi keluarga kesultanan. Juga terdapat jungkit-jungkitan, semacam tempat permainan untuk anak-anak yang terbuat dari besi panjang, yang terletak di samping pendopo.
Jelang matahari terbenam, eksotisme danau yang menjadi saksi bisu tentang kegemilangan Banten pada masa lalu ini kian memikat hati turis. Burung-burung kecil yang terbang rendah di tepi danau dan sesekali menyambar air danau, kian mengukuhkan betapa spesialnya obyek wisata tirta (air) ini. Nuansa tersebut dapat dicerap oleh turis dari tepi danau maupun dari atas perahu yang melaju perlahan-lahan di atas danau.
C. Lokasi
Danau Tasikardi terletak di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia.
D. Akses
Dari Kota Serang, ibukota Provinsi Banten, pengunjung dapat mengakses Danau Tasikardi dengan naik angkutan kota jurusan Kramatwatu. Danau bersejarah tersebut berada sekitar 6 kilometer di sebelah barat Kota Serang, atau berjarak sekitar 3 kilometer di sebelah tenggara Keraton Surosowon.
E. Harga Tiket
Wisatawan yang bertamasya ke Danau Tasikardi dipungut biaya sebesar Rp 5.000 per orang (Juli 2009).
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di kawasan Danau Tasikardi terdapat kantin dan toko yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan, seperti makanan, minuman, dan perlengkapan untuk memancing.
Berbagai fasilitas lainnya, seperti camping ground, tempat parkir, serta jasa persewaan perahu dan tikar, juga tersedia di sini.
Sumber: Wisata Melayu
Label: liburan