BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
sangat penting bagi kehidupan. Pendidikan merubah budaya dan peradaban ummat manusia. Istilah
pendidikan kerap diartikan secara longgar dan dapat mencakup berbagai persoalan
yang luas. Namun demikian, pendidikan sebenarnya dapat ditinjau dari dua segi. Pertama
dari sudut pandang masyarakat, dan kedua dari segi pandang individu.[1]
Dari segi pandangan masyarakat, pendidikan berarti
pewaris kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, agar hidup
masyarakat tetap berkelanjutan. Dari segi individu pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terdalam. Pandangan lainnya
adalah pendidikan yang ditinjau dari segi masyarakat dan dari segi individu
sekaligus. Dengan kata lain, pendidikan dipandang sebagai sekumpulan pewaris
kebudayaan dan pengembang potensi-potensi.
Pada pengembangannya pendidikan
dipahami orang tidak hanya dari tiga sudut pandang di atas, bahkan melahirkan
teori-teori baru yang tentu saja sangat positif bagi kegiatan pengkajian.
Namun, tidak hanya sampai di situ, perkembangan ini pula telah melahirkan
berbagai kerancuan dari
pengertian pendidikan itu sendiri.
Pembicaraan seputar Islam dan pendidikan tetap menarik,
terutama terkait dengan upaya membangun sumber daya manusia muslim. Dan
sebagaimana dimaklumi bahwa dalam Islam belum terdapat rumusan tentang sistem
pendidikan yang baku, melainkan hanya terdapat nilai-nilai moral dan etis yang
seharusnya mewarisi sistem pendidikan tersebut. Sebagai contoh, nilai-nilai
tersebut terlihat dalam ayat al Qur’an yang pertama kali turun, yaitu ayat 1
s.d. 5 surat al ‘Alaq:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ
Artinya: “Bacalah dengan (mnyebut)
nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.
(Q.S.:96;1-5)
Pada ayat tersebut paling tidak terdapat 5 komponen
pendidikan, yaitu guru (Allah), murid (Muhammad SAW), sarana dan prasarana (qalam),
metode (iqra’), dan kurikulum.
Pendidikan jika dipandang sebagai suatu proses, maka proses
tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan [2],
yang dinilai dan diyakini sebagai sesuatu yang paling ideal. Bagi Indonesia
tujuan yang ideal itu dicapai melalui sebuah proses dan sistem pendidikan
nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
No 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3 [3]
: Pendidikan nasional…bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan Islam sebagai sub sistem dari sistem pendidikan
nasional yang mencita-citakan terwujudnya Insan Kamil atau orang Islam
yang saleh ritual dan saleh sosial, secara implisit akan mencerminkan ciri
kualitas manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana yang digambarkan di atas.[4]
Dalam rangka mencapai sebuah hasil yang dicita-citakan dalam
dunia pendidikan yang dalam hal ini pendidikan Islam, perlu sebuah kejelasan
konsep yang dikonstruksi dari sumber-sumber ajaran Islam, dengan tanpa
meninggalkan rumusan para pakar pendidikan yang dianggap relevan yang kemudian
konsep tersebut dituangkan dan dikembangkan dalam kurikulum pendidikan[5]
Pendidikan
adalah suatu keniscayaan bagi setiap orang karena dengan itu ia akan dapat
menjalani hidup dan kehidupannya di masyarakat, yang lebih utama lagi adalah
terselamat dari kemurkaan Allah swt dan mendapatkan keridhaan Allah swt.
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydßqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâxÏî ×#yÏ© w tbqÝÁ÷èt ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan. (Q.S. at-Tahrim: 66; 6)
Hal
ini dapat dicapai dengan memberikan pengajaran, bimbingan dan latihan sehingga
seorang manusia mampu hidup ditengah-tengah masyarakat dengan mengapresiasikan
kemampuannya sebagai manusia yang mandiri dan ini adalah bagian dari hasil
pendidikan.
M.Tholhah
Hasan mengatakan, bahwa tujuan makro Pendidikan Islam dapat dipadatkan menjadi
tiga macam, yaitu:
1) Untuk
menyelamatkan dan melindungi fitrah manusia
2) Untuk
mengembangkan potensi-potensi fitrah manusia, dan
3) Untuk
menyelaraskan langkah perjalanan fitrah mukhallaqah (fitrah yang
diciptakan oleh Allah SWT. pada manusia , yang berupa naluri, potensi jismiyah, nafsiyah, aqliyah, dan
qolbiyah) dengan rambu-rambu fitrah munazzalah (fitrah yang
diturunkan oleh Allah swt. Sebagai acuan
hidup, yaitu agama) dalam semua aspek kehidupan, sehingga manusia dapat lestari
hidup di atas jalur yang benar, atau di atas jalur “Ash-Shirath Al –Mustaqim”.[6]
Bagian
terkecil dari masyarakat adalah sebuah keluarga, yang terdiri dari orang tua
dan anak, seorang anak semenjak dalam perut seorang ibu bahkan sebelum seorang
ayah mencari calon ibu bagi anak-anaknya, maka ia telah berusaha menjaga
dirinya sampai ia memiliki keturunan dan sampai akhir hayatnya berusaha untuk
menjaga diri dan keluarganya dari kesulitan, kesusahan, kemiskinan dan
penderitaan baik yang langsung maupun yang tidak langsung serta mendambakan
kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Lingkungan
yang lebih luas lagi dari keluarga adalah lingkungan sekolah yang telah dibuat
oleh masyarakat sebagai miniatur masyarakat sebagai tempat belajar peserta
didik dalam memahami dan menyadari hidup dan kehidupannya di masyarakat yang
lebih luas lagi. Lebih luas lagi dari masyarakat adalah Negara atau pemerintah yang menaungi masyarakat dalam
sebuah Negara dan bertanggungjawab atas masyarakatnya.
Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan masa depan
adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang
bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.
Pendidikan harus menyentuh potensi
nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. [7]
Jika mengamati fenomena sosial terutama di Indonesia agaknya
konflik-konflik dalam hubungan manusia
sebagai individu atau kelompok
bahkan bangsa berlangsung dalam eskalasi yang tinggi hingga
ke tingkat violence (berang-bengis). Pada beberapa tahun terakhir ini misalnya, di
dalam media massa negeri ini diliput banyak kasus kekerasan. Sebagian besar
aksi-aksi kekerasan itu memakai legitimasi agama. Berbagai isu sosial keagamaan
yang tidak membanggakan dan tidak
menggembirakan. Berbagai kasus
tersebut sangat memperihatinkan sekali, karena agama yang seharusnya dating
membawa kedamaian dan kesejukan dalam kehidupan, ternyata justru malah tampak
berseberangan, bahkan bertolak belakang
dengan esensi agama itu sendiri.[8]
Hingga saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai
tantangan yang berat, terutama dalam konteks pendidikan. Diantara tantangan itu
adalah:
1. Globalisasi dalam bidang budaya,
etika dan moral, sebagai akibat dari kemajuan teknologi di bidang transportasi
dan informasi. Para siswa (peserta didik) saat ini telah mengenal berbagai
sumber pesan pembelajaran, baik yang bersifat pedagogis–terkontrol maupun
non-pedagogis yang sulit terkontrol.
Sumber-sumber pesan pembelajaran yang sulit terkontrol akan dapat mempengaruhi
perubahan budaya, etika, dan moral para siswa (peserta didik) atau masyarakat.
Masyarakat yang semula asing bahkan tabu terhadap model-model pakaian (fashion) yang terbuka dan
hiburan-hiburan (fun) atau film-film
porno dan sadism, atau tabu dengan bacaan dan gambar porno yang dimuat
diberbagai media massa, kemudian menjadi biasa-biasa saja (permisive), bahkan ikut menjadi bagian dari itu. Sebagai aksesnya
adalah munculnya sikap sadism, kekerasan, pemerkosaan dan sebagainya dikalangan
sebagian masyarakat. Bahkan tidak heran
saat ini sering dijumpai model kehidupan controversial yang dapat dialami dalam waktu yang sama
serta dapat bertemu dalam pribadi yang sama, yaitu: antara kesalehan dan
keseronohan, antara kelembutan dan kekerasan, antara koruptor dan dermawan,
antara koruptor dan keaktifan beribadah (solat, haji atau umroh), serta antara
masjid dan mall, yang keduanya terus menerus berdampingan satu sama lain.
2. Rendahnya tingkat sosial-kapital (pendapatan sosial), inti dari
sosial-kapital adalah trust (sikap
amanah). Menurut sementara pengamatan para ahli, bahwa dalam bidang sosial-kapital
bangsa Indonesia hamper mencapai titik
“Zero trust society”, atau masyarakat yang sulit dipercaya, yang beraarti sikap
amanah (trust) sangat lemah. Diantara indikatornya adalah hasil survey the
political and economic risk consultacy (PERC) tahun 2004 bahwa indek korupsi di
Indonesia sudah mencapai 9.25 atau rangking pertama di Asia, bahkan pada tahun
2005 indeknya meningkat sampai 9,4.
3. Hasil-hasil survey internasional
menunjukkan bahwa mutu pendidikan di
Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan Negara tetangga.
4. Disparitas kualitas pendidikan di
daerah di Indonesia masih tinggi.
5. Diberlakukannya globalisasi dan
perdagangan bebas, yang berarti persaingan alumni dalam pekerjaan semakin
ketat.
6. Angka pengangguran lulusan sekolah/
madrasah dan perguruan tinggi semakin meningkat.
7. Tenaga asing meningkat, sedangkan
tenaga Indonesia yang ikirim ke luar negeri pada umumnya non-profesional.
8. Orang-orang lebih senang sekolah/
studi atau menyekolahkan anaknya di luar
negeri.
9. Eskalasi konflik, yang di salah satu
sisi merupakan unsure dinamika sosial,
tetapi di sisi lain justru mengancam harmoni bahkan integritas sosial baik
local, nasional, regional, maupun internasional.
10. Permasalahan makro nasional, yang
menyangkut krisis multidimensional baik di bidang ekonomi, politik, moral,
budaya dan sebagainya.[9]
Demikianlah masalah-masalah dan tantangan yang terjadi di
masyarakat Indonesia menjadi dilematik bagi pemerintah yang telah berupaya mengatasi masalah-masalah dan tantangan yang
ada dalam masyarakat dalam berbagai bidang, namun hasilnya tak kunjung datang.
Pendidikan merupakan kunci kemajuan, semakin baik kualitas
pendidikan yang dilaksanakan oleh suatu
masyarakat/ bangsa, maka akan diikuti dengan semakin baiknya kualitas
masyarakat/ bangsa tersebut. Tidak salah jika Fazlur Rahman menyatakan
bahwa “Setiap reformasi dan pembaruan
dalam Islam harus dimulai dengan pendidikan.” Karena itu para pemerhati dan
pengembang pendidikan Islam tiada henti-hentinya untuk memperbincangkan masalah
tersebut.
Khursid Ahmad misalnya menyatakan bahwa :”All
of the problem that confront the muslim world to day, so the educational
problem is the most challenging. The future of the muslim world will depend
upon the way it respons to this challenge,” yakni dari sekian banyak
permasalahan yang merupakan tantangan terhadap dunia Islam dewasa ini, maka
masalah pendidikan merupakan masalah yang paling menantang. Masa depan dunia
Islam menjawab dan memecahkan tantangan
ini. Statement ini menggarisbawahi bahwa masa depan Islam juga tergantung
kepada cara umat Islam merespons dan
memecahkan masalah-masalah pendidikan yang berkembang di Indonesia, terutama
dalam konteks pengembangan sistem pendidikan Islam masa depan.[10]
Pada masa awal kemerdekaan,
pemerintah dan bangsa Indonesia telah
mewarisi sistem pendidikan dan pengajaran yang dualistis, yaitu: (1)
sistem pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah umum sekuler, tak
mengenal ajaran agama, yang merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda;
dan (2) sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang tumbuh dan berkembang di
kalangan masyarakat Islam sendiri, baik yang bercorak isolative-tradisional
maupun yang bercorak sintesis dengan berbagai variasi pola pendidikannya.[11]
”Penyebaran
Islam di Indonesia pada umumnya berlangsung melalui proses yang disebut sebagai
penetration pacipique (penyebaran secara damai), pertama kali melalui
introduksi Islam oleh para pedagang yang datang dari Timur Tengah sejak
abad-abad 8 dan 9, yang selanjutnya melalui konversi massal berkat usaha para
guru sufi yang mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain. Proses semacam
ini, pada gilirannya, memberikan ciri yang cukup khas bagi Islam di Indonesia,
yang akomodatif dan inklusif, kalau tidak bisa dikatakan cenderung sinkretis
dengan sistem kepercayaan lokal.”[12]
Kedatangan Islam ke
Nusantara-Indonesia yang dibawa oleh para pengikut Nabi Muhammad saw. Sekitar abad ke-7 M tersebut telah mampu
membuka cakrawala bagi masyarakat Indonesia dalam hal keberagamaan.
Pada masa perkembangan awal, tentu
saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara. Pendidikan yang
berlangsung dapat dikatakan umumnya bersifat informal; dan inipun lebih
berkaitan dengan upaya-upaya dakwah Islamiyah-penyebaran dan penanaman
dasar-dasar kepercayaan dan ibadah Islam.[13]
Sejalan dengan perkembangan zaman, pendidikan
telah mengalami perubahan. Pendidikan lebih daripada sekedar pengajaran; yang
terakhir ini dapat dikatakan sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, bukan
transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang
dicakupnya.[14]
Padahal Pendidikan Islam telah
memberikan solusi bagi ummat manusia agar dapat mencapai kemuliaan, kebahagiaan
yaitu dengan menanamkan keimanan dan ketakwaan. Sebagaimana firman Allah swt. :
“Inna akromakum indzallahi atqo kum” : artinya: sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian pada pandangan Allah
adalah yang paling takwa. (Q.S. al-Hujurat:49; 13) Demikian sesuai dengan
tujuan pendidikan Islam, sebagaimana yang dikatakan Azyumardi Azra :
“Pendidikan Islam merupakan salah
satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karenanya, tujuan
pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam; yaitu
untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepada-Nya,
dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Dalam
konteks sosial – masyarakat bangsa dan Negara – maka pribadi yang bertakwa ini
menjadi Rahmatan Lil’alamin, baik
dalam skala kecil maupun besar.”[15]
Begitu mulianya tujuan pendidikan Islam, baik dipahami
secara makro/ luas maupun secara mikro/ sempit, hal ini telah disadari bersama
oleh para pelaksana pendidikan.
B.
Masalah
dan Pertanyaan Penelitian
1.
Identifikasi
Masalah
a.
Fenomena sosial di Indonesia yang bertentangan dengan
nilai-nilai agama, budaya, moral yang berakibat timbulnya krisis multidimendional.
b.
Pemerintah dan bangsa Indonesia telah mewarisi sistem pendidikan dan pengajaran
yang dualistis, yaitu: (1) sistem pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah
umum sekuler, tak mengenal ajaran agama. (2) sistem pendidikan dan pengajaran
Islam yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Islam sendiri.
c.
Respon umat Islam dalam memecahkan masalah-masalah
pendidikan yang berkembang di Indonesia, terutama dalam konteks pengembangan
sistem pendidikan Islam masa depan.
2.
Batasan
Masalah
Untuk membatasi pembahasan penelitian
ini, maka peneliti akan mulai dari pembahasan:
1. Pendidikan
di Indonesia
2. Konsep
Pendidikan Islam di Indonesia
3. Pemikiran
Pendidikan Islam Azyumardi Azra (Direktur
Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Indonesia.
3.
Rumusan
Masalah
Berangkat
dari uraian di atas, penulis dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini,
yaitu :
1. Bagaimana
Konsep pendidikan di Indonesia ?
2. Bagaimana
Konsep Pendidikan Islam di Indonesia ?
3. Bagaimana
Pemikiran Pendidikan Islam Azyumardi Azra (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta) di Indonesia ?
C.
Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
- Tujuan Penelitian:
a.
Akademik
:
i.
Memperoleh data dan
informasi tentang perkembangan dan kemajuan pendidikan di Indonesia dan
ii.
Untuk menganalisis
konsep pemikiran pendidikan Islam Azyumardi Azra di Indonesia.
iii.
Mendeskripsikan konsep
pemikiran pendidikan Islam Azyumardi
Azra di Indonesia
b.
Terapan
:
i.
Mendeskripsikan konsep
pemikiran Pendidikan Islam Azyumardi Azra di Indonesia dan sebagai sumbangan pemikiran dalam Pendidikan
Islam di Indonesia.
ii.
Memberikan sumbangan
pemikiran sebagai kerangka dasar atau konsep pendidikan Islam bagi masyarakat
dan pemerintah di Indonesia
- Kegunaan hasil penelitian:
a.
Akademik
:
i. Membangun
kebiasaan berpikir ilmiah, dinamis, dan kritis terhadap persoalan-persoalan
seputar pendidikan Islam
ii. Memberi
kontribusi pemikiran terhadap pengembangan pendidikan Islam di Indonesia
b.
Terapan
:
i. Memberi
kontribusi terhadap pengembangan keilmuan dalam tataran teoritik dan praktik
kepada insan akademik, praktisi, dan pemerhati pendidikan, baik dalam
kapasitas kelembagaan maupun personal.
ii. Memberi
kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan Islam di Indonesia menurut
Azyumardi Azra
D.
Kajian
Pustaka/ Tinjauan Pustaka
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan bagi
hidup dan kehidupan manusia yang beradab. Dengan pendidikan manusia mengalami
berbagai perubahan dalam perkembangannya, baik dari segi jasmani maupun rohani,
phisik maupun psikis, sehingga pendidikan harus selalu ada dalam masyarakat.
Pengertian pendidikan
menurut M. Ngalim Purwanto, dalam
bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan
Praktis, sebagai berikut:
1) Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam
pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya
ke arah kedewasaan.
2) Pendidikan adalah pimpinan yang diberikan dengan sengaja
oleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani)
agar berguna bagi diri sendiri dan bagi
masyarakat.[16]
Namun dalam perkembangannya pendidikan mengalami berbagai
perubahan. Sebagaimana pendidikan dalam Islam, sedianya pendidikan sebagai satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat dari sejarah
bahwasanya di zaman awal-awal Islam berkembang, maka yang pertamakali diberikan
oleh Allah dalam al-Qur’an adalah tentang pendidikan, sehingga ayat yang
pertamakali diturunkan-Nya tentang pendidikan; perintah membaca. (Q.S: Al-Alaq;
1-5).
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.
(Q.S.: 96; 1-5)
Demikian juga yang telah diajarkan Nabi Muhammad saw. Kepada
para sahabat-sahabatnya di periode Makkah, yakni pendidikan.
“… dalam masalah ilmu pengetahuan
perhatian Rasul Muhammad sangat besar. Rasulullah saw., memberi contoh
revolusioner bagaimana seharusnya mengembangkan ilmu….. wahyu pertama yang
diterima Rasul berbunyi bacalah. Perhatikan setiap fenomena alam. Ketahuilah
sunnatullah yang menguasai segala peristiwa alam ini. Ambillah kesimpulan tentang hakekat yang terletak di balik kenyataan yang
empiris. Perintah ini pada hakikatnya adalah pencanangan dan pemberantasan buta
huruf, suatu tindakan yang membebaskan umat manusia dari ketidaktahuan. Membaca
dan memahami merupakan pintu bagi pengembangan ilmu. Dengan membaca manusia
bisa memahami rangkaian huruf dan lebih dari itu, bisa memahami firman-firman
Allah yang tergelar di alam maya pada ini.”[17]
Dalam
sejarah telah nyata bahwa periode Makkah ini terkenal dengan penanaman keimanan
(tauhid) kepada Allah Yang Maha Esa selama 13 tahun, selanjutnya periode
Madinnah tentang pengamalan ajaran Islam, selama 10 tahun; ta’allamul iman
tsumma ta’allamul Qur’an, dengan metode pendidikan yang demikian, maka
Islam berkembang dengan pondasi yang kokoh. Dilanjutkan oleh para sahabat Nabi
saw., walaupun institusi belum berdiri namun telah menghasilkan ulama-ulama
besar; Abu Bakar As-siddiq, Ummar Bin Khattab, Aisyah binti Abu Bakar yang
terkenal dengan wanita yang paling mengerti tentang perkara fiqh, dan Ali bin
Abu Thalib yang terkenal sebagai gudang ilmu; ana madinatul ‘ilmi wa ‘aliyu
babuha, sampai kepada para
tabiit-tabiin dengan menghasilkan banyak ulama dan para ilmuwan; Ibnu Sina (Avicena),
Ibnu Rusyid (Averoes), Al-Ghazali,
sehingga Islam terkenal sampai ke Eropa.
Dari perjalanan pendidikan yang terus menerus dan dengan
metode demikian telah menginspirasikan penulis melihat pendidikan yang
berkembang di Indonesia ; Pada masa awal
kemerdekaan, pemerintah dan bangsa Indonesia telah mewarisi sistem pendidikan dan pengajaran
yang dualistis, yaitu: (1) Sistem pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah
umum sekuler. (2) Sistem pendidikan dan pengajaran Islam dengan soko gurunya
adalah pesantren.
Hal ini akan membawa kendala-kendala
bagi perkembangan pendidikan di Indonesia;
Sejatinya pendidikan yang berkembang di Indonesia ini memadukan dua sistem
pendidikan; pendidikan Islam (bersifat normatif karena lebih menekankan pada
penguasaan teks dan hafalan=ingatan) dan pendidikan Barat (lebih mengembangkan
sikap kritis dan analitis; lebih mementingkan nalar).
Salah satu bukti yaitu, adanya
beberapa pakar pendidikan yang telah merumuskan pengembangan IAIN menjadi
UIN, “Isu pengembangan IAIN menjadi UIN
sebenarnya sudah lama digulirkan sejak
Departemen Agama dipimpin oleh H. Tarmizi Taher…dengan dijadikannya 5 IAIN
(Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Pakan Baru, Surabaya) dan STAIN (Malang),
sebagai pilot project pengembangan menuju ke UIN.”[18]
Selanjutnya
penulis mengungkapkan tentang pemikiran pendidikan Islam Azyumardi Azra
dari hasil wawancara dan studi literatur/ penelitian kepustakaan.
Azyumardi
sosok intelektual muslim yang banyak berbicara tentang sosial dan keislaman,
dalam berbagai kesempatan dan aktif menuangkan pemikirannya dalam karya tulis.
Dalam hal ini penulis meneliti pemikirannya tentang pendidikan Islam di
Indonesia dengan merujuk pada buku karanganya, terutama yang berkaitan dengan
tema di atas, yaitu: Esai-Esai
Intelektual Muslim dan Pendidikan
Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Millennium Baru, dan Islam Substantif; Agar Umat Tidak Jadi Buih.
Masalah
dalam karya tulis ini belum pernah diteliti, apakah pemikiran pendidikan Islam
Azyumardi Azra ini mampu menjadi solusi bagi masalah-masalah yang sedang
dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan mampu membangun pendidikan di Indonesia.
E.
Kerangka
Pikir
Dari uraian deskripsi di atas, maka dapat penulis
tuangkan dalam kerangka konseptual, sebagai berikut: Pendidikan Islam adalah
pendidikan yang menanamkan nilai-nilai Islam yang telah dilaksanakan oleh Nabi
Muhammad SAW.,yang telah mendapatkan kejayaannya pada abad ke-7 M sampai abad
ke-11 M. Perjuangan Rosulullah dalam mendidik para sahabat sehingga telah
membawa sahabat kepada kemuliaan dan kemenangan dari segi jasmani maupun
rohani, hal ini karena penanaman keyakinan (tauhid) sebagai pondasi dalam
mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada dalam hidup dan kehidupan,
tercermin dari usaha Nabi Muhammad SAW., menanamkan keimanan di periode Makkah
selama 13 tahun. Adapun selanjutnya baru diajarkan perkara-perkara yang bersifat
keduniaan (muamalah), tercermin dalam periode Madinah selama 10 tahun.
maka dalam perkara muamalah diserahkan kepada kemampuan dan keahlian
masing-masing individu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.,: “Antum a’lamu
biumuriddunya kum”. Hadis ini
menginspirasikan untuk berijtihad, disamping itu juga pada zaman para sahabat
telah membudaya dalam semangat menuntut ilmu, ketika Rosulullah SAW., banyak
mendapatkan surat-surat dari para pembesar yahudi, maka Rosulullah meminta
bantuan orang Yahudi untuk menterjemahkan surat tersebut, kawatir terjadi
manipulasi dan kebohongan, hingga akhirnya ada sahabat yang diperintahkan
Rosulullah Muhammad SAW. untuk
mempelajari bahasa Suryani/ Ibrani.
Allah SWT., sebagai sumber ilmu telah menciptakan
dan mengajarkan ilmu pengetahuan lewat
ayat-ayat (sign)-Nya berupa alam semesta termasuk didalamnya manusia
sebagai ayat-ayat kauniyah (ayat
tercipta) dan wahyu (Al-Qur’an dan Hadis) sebagai ayat ayat kauliyah (yang terucap). Dengan demikian Islam tidak
mengenal dikotomi apalagi pertentangan antara pengetahuan agama dan pengetahuan
umum, karena keduanya berasal dari
sumber yang sama yaitu Allah Yang Maha Esa, mengemban misi yaitu Rahmatan
lil ‘alamin dan bermuara pada tujuan yang sama yaitu Ridha Allah SWT., maka
selanjutnya penulis meninjau pendidikan
di Indonesia, integrasi pendidikan Islam dan pendidikan umum dan pemikiran
pendidikan Islam Azyumardi Azra di Indonesia.
Bagan Konseptual
Pemikiran Pendidikan Azyumardi Azra di
Indnesia
|
SUPLEMEN DAN KOMPLEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
|
F.
Metode
Penelitian
1. Jenis
Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian
Kualitatif, yaitu upaya menemukan kebenaran dalam wilayah-wilayah
konsep mutu. Atau salah satu pendekatan penelitian yang secara primer menggunakan
paradigma pengetahuan berdasarkan pandangan konstruktivis, dengan maksud
mengembangkan suatu teori atau pola.[19] penulis menggunakan jenis penelitian
literatur/ kepustakaan dan wawancara untuk merekonstruksi konsep pemikiran
pendidikan Azyumardi Azra di Indonesia dan menganalisisnya, mana saja yang
termasuk konsep-konsep pendidikannya.
2. Sumber
data
Data adalah keseluruhan
atau sebagian dari fakta yang relevan dengan keluasan atau kesempitan cakupan
masalah atau topik penelitian. Data merupakan bahan pokok yang dapat
diolah dan dianalisis untuk menjawab
masalah penelitian. Sumber data adalah segala sesuatu yang memiliki informasi
tentang objek penelitian.[20]
Sumber data ada dua jenis, yaitu: data primer dan sekunder.
a.
Data Primer
adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan
oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Teknik yang digunakan
antara lain wawancara, observasi, diskusi terfokus (focus group discussion). Sumber primer (Informan utama): Prof.
Dr. Azyumardi Azra, MA sebagai sumber utama dengan teknik wawancara,[21]
dan karya
tulisnya berupa buku-buku artikel dan karya tulis, situs internet.
b.
Data Sekunder
adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang
telah ada (peneliti sebagai tangan kedua) [22],
tokoh/
orang kedua yang menulis tentang Azyumardi yang tersimpan berupa, buku-buku,
artikel, karya tulis, dan situs internet.
3.
Teknik
Pengumpulan Data
a. Wawancara:
wawancara digunakan untuk memperoleh informasi secara langsung dengan Azyumardi Azra.
Dalam hal ini peneliti menggunakan pedoman wawancara ‘Semi Struktured’; mula-mula peneliti menanyakan
serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam
dalam mengorek keterangan lebih lanjut.[23]
b. Studi
Dokumen Kepustakaan: metode dokumentasi
adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan,
transkrip, buku, surat kabar, majalah dengan membaca literatur, karya-karya-nya
baik berupa buku , essai dan artikel-artikelnya dan situs internet di mass
media.
c. Observasi:
observasi digunakan untuk mengamati kepribadian dan kejiwaannya. Penulis
melakukan observasi terhadap data primer ketika wawancara dengan Azyumardi di kantornya
(Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta).
4. Analisis Data
Analisis data (Content Analysis=analisis isi) penelitian kualitatif dilakukan peneliti
dengan mengorganisasikan data,
menjabarkannya ke unit-unit, selanjutnya melakukan sintesis, menyusun ke dalam
pola, memilih mana-mana yang penting, dan dikaji (menggunakan hermeneutik. Hermeneutik adalah filsafat yang menggunakan metode
interpretasi. Interpretasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)[24],
artinya: pemberian kesan, pendapat, pandangan
teoritis terhadap sesuatu.) sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan untuk disampaikan kepada orang lain.[25]
[1] Hasan Langgulung, , Asas-asas
Pendidikan Islam, (Jakarta : Al-Husna, 2000). cet. Pertama, hal. 1
[3] Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional,
(Bandung: Citra, Umbara, 2003), h. 7
[5]Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam
: Sebuah Telaah Komponen dasar Kurikulum, (Solo: Ramadhani, 1991), h.10
[6] Muhaimin, Rekonstruksi
Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), h. 255
[7] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran
Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2009), cet. 3, h. 1
[8] Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam, (Jakarta:
Rajawali Press, 2009), h. 281
[9] Ibid., h. 15-17
[10] Ibid, h. 73
[11] Ibid., h. 76
[12] Azyumardi Azra, Konteks Berteologi di Indonesia;
Pengamalan Islam, (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 38
[13] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi
Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos,1999)
[14] Ibid., h. 3
[15] Ibid., h. 8
[16] Ibid., h. 10
[17] Musyrifah Sunanto,
Sejarah Islam Klasik; Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam,(Jakarta:
Kencana, 2007), cet ke-3, h. 14
[18] Muhaimin, Paradigma
Pendidikan Islam; Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
(Bandung: Rosdakarya, 2001), h. 61
[19] Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikaan,
(Jakarta: Rajawali Press, 2010), h. 28
[20] Trianto, Pengantar
Penelitian Pendidikan Bagi Pengembangan Profesi Pendidikan Dan Tenaga
Kependidikan, (Jakarta: Kencana, 2010),
h. 253
[21] Wawancara dengan
Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (direkam/ record) di kantornya Sekolah
Pascasarjana UIN Jakarta tanggal 21 Februari 2012
[22] Trianto, Pengantar Penelitian Pendidikan Bagi
Pengembangan Profesi Pendidikan dan Tenaga Pendidikan, (Jakarta; Kencana,
2010), h. 279-280
[23] Ibid., h. 277
[24] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) offline 1.3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar