Selasa, 29 Mei 2012

kesimpulan


BAB V
PENUTUP

Alhamdulillah setelah melalui berbagai cobaan dan ujian, maka sampailah penulis pada akhir penulisan karya tulis ini dengan kesimpulan dan rekomendasi kepada pihak-pihak yang terkait.
A.                Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah digambarkan pada bab-bab terdahulu, maka dapat diambil kesimpulan:
1.      Azyumardi Azra adalah sosok cendekiawan Muslim yang berpikiran  rasional, modern, demokratis, dan toleran.
2.      Pendidikan Islam menurut Azyumardi adalah proses suatu bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan (sebagai khalifah) dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien berdasarkan  sumber-sumber Islam yakni, al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad (akal).
3.      Tujuan akhir pendidikan Islam Azyumardi adalah peserta didik menjadi Insan Kamil; Insan Takwa. Yaitu berpadunya tiga ranah pendidikan dalam diri peserta didik; kognitif, afektif, dan psikomotor, atau terintegrasinya antara ilmu, iman dan amal.
4.      Sumber Pendidikan Islam terdiri atas: Al-Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad, Kata Sahabat Nabi SAW, Kemaslahatan Masyarakat, Nilai-Nilai Adat dan Kebiasaaan-Kebiasan Sosial, Hasil Pemikiran-Pemikiran dalam Islam.
5.      Materi pendidikan Islam dalam pandangannya sangat luas, meliputi semua ilmu. Setiap ilmu yang baik/ bermanfaat adalah Islam, dengan landasan kemanfaatannya, keperluannya bagi bangsa Indonesia. Ilmu dalam Islam ada dua sumber, pertama ayat kauniyah; ilmu yang diambil atau berasal dari alam semesta, antara lain fisika, Biologi, Matematika, Kedokteran, Humaniora dan lain sebagainya , kedua ayat kauliyah; ilmu yang diambil dari al-Qur’an dan Hadis Nabi, seperti Tafsir, Fikih, Ushul Fikih dan lain sebagainya.
6.      Metode dan Setrategi harus meliputi tiga aspek kepribadian peserta didik; Kognitif, Afektif, dan Psikomotor. Semua metode (sebagaimana dibahas di bab II) digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi agar terjadi proses pembelajaran yang efektif dan efesien sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaran nasional.
7.      Evaluasi dalam pendidikan Islam harus meliputi tiga aspek kepribadian peserta didik; 1)  aspek kognitif; penguasaan ilmu pengetahuan, 2) Aspek afektif; sikap, dan 3) Aspek motorik;  dipraktekkan dalam kehidupan nyata.
8.      Lembaga pendidikan Islam ditentukan berdasarkan pandangan filosofinya Islam, yaitu yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah, adapun nama boleh yang eksplisit maupun inplisit; eksplisit artinya menampilkan/ memakai nama/ label Islam, seperti Perguruan Tinggi Islam, Madrasah. Sedangkan inplisit, artinya lembaga yang tidak menampilkan/ memakai lebel Islam, seperti Dwi Warna di Parung (kurikulumnya Islam). (Islam Substantif).
9.       Karakteristik Pendidikan Islam: Pertama, penguasaan ilmu pengetahuan, Kedua, pengembangan ilmu pengetahuan, Ketiga,  penekanan pada nilai-nilai akhlak (karakter), keempat, pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umum, kelima, adalah penyesuaian kepada perkembangan anak, keenam, pengembangan kepribadian, ketujuh, adalah penekanan pada amal saleh dan tanggung jawab.
10.  Azyumardi menolak dikotomisasi ilmu pengetahuan karena ilmu itu sumbernya satu yaitu Allah SWT. Ia membuktikan ucapannya tersebut dengan merubah perguruan tinggi IAIN menjadi UIN; hal ini mengharuskan dibukanya fakultas-fakultas yang bermuatan ilmu-ilmu umum, disamping ilmu-ilmu agama.
11.   Integrasi Ilmu Pendidikan. Mengintegrasikan  ajaran-ajaran ideologi dan pandangan Islam secara menyeluruh ke dalam mata pelajaran (subject matter) ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah, antara lain melalui mengintegrasikan nilai-nilai dan ideologi Islam ke dalam Teori-Teori Ilmu Sosial, Kemanusiaan, Filsafat, Sosiologi dan Kebijakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Selain  memberikan pendidikan keagamaan, akhlak, sesuai dengan ajaran-ajaran agama (pendidikan nilai=karakter).
12.   Keluarga adalah lembaga pendidikan informal yang sangat penting dalam membentuk generasi muda muslim. Keluarga merupakan basis dari ummah (bangsa); dan karena itu keadaan keluarga sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri.
13.  Pemikiran pendidikan Islam Azyumardi salah satu alternatif untuk mengatasi persoalan-persoalan (fenomena) yang sedang terjadi pada Bangsa dan Negara Indonesia yang sedang dilanda dengan krisis multidimensional.

B.                Rekomendasi

1.      Sekolah-Sekolah; supaya mengintegrasikan  ajaran-ajaran ideologi dan pandangan Islam secara menyeluruh ke dalam mata pelajaran (subject matter) ke dalam kurikulum. Kurikulum harus disederhanakan baik di jenjang pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi,
2.      Sistem pendidikan Islam harus diperbaharui; kurikulum pendidikan harus ditingkatkan  dengan memasukkan topik-topik beragam, berbobot , menarik.
3.      Perguruan Tinggi; Mata kuliah tidak mesti banyak,  sedikit tapi mendalam, ia menjelaskan bahwa mata kuliah tidak usah banyak-banyak yang akhirnya akan menjadikan beban bagi mahasiswa, sebagaimana contoh ia menyebutkan seperti di Sekolah Pascasarjana, cukup tiga sampai lima mata kuliah saja, yang dibesarkan bobot SKS-nya (dari 3-6). Idealnya beban mahasiswa setiap semester tidak lebih dari 5 mata kuliah (antara 3-5).
4.      UIN dan IAIN ; Lulusannya haruslah orang yang berpikiran  rasionalis, modernis, demokratis, dan toleran (Muslim= Islam substantif). Lulusan yang tidak membedakan ilmu agama dan ilmu umum, tidak memahami agama secara literer, menjadi Islam yang rasional  bukan Islam yang madzhabi atau terikat pada madzhab tertentu saja.
5.      Pemerintah; diadakan program peningkatan pendidik dan tenaga kependidikan dengan (Idealnya) pengiriman dosen program S2 dan S3 keduanya bisa dipadukan, misalnya S2 di Timur Tengah, sedangkan S3-nya dilanjutkan di Barat.
6.      Pemerintah; bagi warganegara yang berprestasi diberi kebebasan biaya (beasiswa).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar