BAB V
PENUTUP
Alhamdulillah
setelah melalui berbagai cobaan dan ujian, maka sampailah penulis pada akhir
penulisan karya tulis ini dengan kesimpulan dan rekomendasi kepada pihak-pihak
yang terkait.
A.
Kesimpulan
Dari
pembahasan yang telah digambarkan pada bab-bab terdahulu, maka dapat diambil
kesimpulan:
1.
Azyumardi
Azra adalah sosok cendekiawan Muslim yang berpikiran rasional, modern, demokratis, dan toleran.
2. Pendidikan Islam
menurut Azyumardi adalah proses
suatu bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan
kehidupan (sebagai khalifah) dan
untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien berdasarkan sumber-sumber Islam yakni, al-Qur’an, Sunnah,
dan Ijtihad (akal).
3. Tujuan
akhir pendidikan Islam Azyumardi adalah
peserta didik menjadi Insan Kamil; Insan Takwa. Yaitu berpadunya tiga ranah
pendidikan dalam diri peserta didik; kognitif, afektif, dan psikomotor, atau
terintegrasinya antara ilmu, iman dan amal.
4. Sumber
Pendidikan Islam terdiri atas:
Al-Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad, Kata Sahabat Nabi SAW, Kemaslahatan
Masyarakat, Nilai-Nilai Adat dan Kebiasaaan-Kebiasan Sosial, Hasil
Pemikiran-Pemikiran dalam Islam.
5. Materi
pendidikan Islam dalam pandangannya
sangat luas, meliputi semua ilmu. Setiap ilmu yang baik/ bermanfaat adalah
Islam, dengan landasan kemanfaatannya, keperluannya bagi bangsa Indonesia. Ilmu
dalam Islam ada dua sumber, pertama ayat
kauniyah; ilmu yang diambil atau berasal dari alam semesta, antara lain
fisika, Biologi, Matematika, Kedokteran, Humaniora dan lain sebagainya , kedua ayat kauliyah; ilmu yang diambil dari
al-Qur’an dan Hadis Nabi, seperti Tafsir, Fikih, Ushul Fikih dan lain
sebagainya.
6. Metode
dan Setrategi harus meliputi tiga
aspek kepribadian peserta didik; Kognitif, Afektif, dan Psikomotor. Semua
metode (sebagaimana dibahas di bab II) digunakan sesuai dengan situasi dan
kondisi agar terjadi proses pembelajaran yang efektif dan efesien sehingga
mampu mencapai tujuan pembelajaran nasional.
7. Evaluasi
dalam pendidikan Islam harus meliputi tiga
aspek kepribadian peserta didik; 1) aspek kognitif; penguasaan ilmu pengetahuan,
2) Aspek afektif; sikap, dan 3) Aspek motorik;
dipraktekkan dalam kehidupan nyata.
8. Lembaga
pendidikan Islam ditentukan berdasarkan
pandangan filosofinya Islam, yaitu yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah,
adapun nama boleh yang eksplisit
maupun inplisit; eksplisit artinya menampilkan/ memakai nama/ label Islam, seperti
Perguruan Tinggi Islam, Madrasah. Sedangkan inplisit,
artinya lembaga yang tidak menampilkan/ memakai lebel Islam, seperti Dwi Warna
di Parung (kurikulumnya Islam). (Islam Substantif).
9.
Karakteristik
Pendidikan Islam: Pertama,
penguasaan ilmu pengetahuan, Kedua,
pengembangan ilmu pengetahuan, Ketiga, penekanan pada nilai-nilai akhlak (karakter), keempat, pengabdian kepada Allah dan
kemaslahatan umum, kelima, adalah
penyesuaian kepada perkembangan anak, keenam, pengembangan kepribadian, ketujuh, adalah penekanan pada amal
saleh dan tanggung jawab.
10. Azyumardi
menolak
dikotomisasi ilmu pengetahuan karena ilmu itu sumbernya satu yaitu
Allah SWT. Ia membuktikan ucapannya tersebut dengan merubah perguruan tinggi
IAIN menjadi UIN; hal ini mengharuskan dibukanya fakultas-fakultas yang
bermuatan ilmu-ilmu umum, disamping ilmu-ilmu agama.
11. Integrasi
Ilmu Pendidikan. Mengintegrasikan ajaran-ajaran ideologi dan pandangan Islam
secara menyeluruh ke dalam mata pelajaran (subject
matter) ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah, antara lain melalui
mengintegrasikan nilai-nilai dan ideologi Islam ke dalam Teori-Teori Ilmu
Sosial, Kemanusiaan, Filsafat, Sosiologi dan Kebijakan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi. Selain memberikan pendidikan
keagamaan, akhlak, sesuai dengan ajaran-ajaran agama (pendidikan nilai=karakter).
12. Keluarga
adalah lembaga pendidikan informal yang sangat penting dalam membentuk generasi
muda muslim. Keluarga merupakan basis dari ummah (bangsa); dan
karena itu keadaan keluarga sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri.
13. Pemikiran pendidikan Islam Azyumardi salah satu
alternatif untuk mengatasi persoalan-persoalan (fenomena) yang sedang terjadi
pada Bangsa dan Negara Indonesia yang sedang dilanda dengan krisis
multidimensional.
B.
Rekomendasi
1. Sekolah-Sekolah;
supaya mengintegrasikan ajaran-ajaran
ideologi dan pandangan Islam secara menyeluruh ke dalam mata pelajaran (subject matter) ke dalam kurikulum. Kurikulum
harus disederhanakan baik di jenjang pendidikan dasar, menengah maupun
perguruan tinggi,
2. Sistem
pendidikan Islam harus diperbaharui; kurikulum pendidikan harus
ditingkatkan dengan memasukkan
topik-topik beragam, berbobot , menarik.
3. Perguruan
Tinggi; Mata kuliah tidak mesti banyak, sedikit tapi mendalam, ia menjelaskan bahwa
mata kuliah tidak usah banyak-banyak yang akhirnya akan menjadikan beban bagi mahasiswa,
sebagaimana contoh ia menyebutkan seperti di Sekolah Pascasarjana, cukup tiga
sampai lima mata kuliah saja, yang dibesarkan bobot SKS-nya (dari 3-6).
Idealnya beban mahasiswa setiap semester tidak lebih dari 5 mata kuliah (antara
3-5).
4. UIN
dan IAIN ; Lulusannya haruslah orang yang
berpikiran rasionalis, modernis,
demokratis, dan toleran (Muslim= Islam substantif). Lulusan yang tidak
membedakan ilmu agama dan ilmu umum, tidak memahami agama secara literer,
menjadi Islam yang rasional bukan Islam
yang madzhabi atau terikat pada madzhab tertentu saja.
5. Pemerintah;
diadakan program peningkatan pendidik dan tenaga kependidikan dengan (Idealnya)
pengiriman dosen program S2 dan S3 keduanya bisa dipadukan, misalnya S2 di
Timur Tengah, sedangkan S3-nya dilanjutkan di Barat.
6. Pemerintah;
bagi warganegara yang berprestasi diberi kebebasan biaya (beasiswa).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar