BAB
IV
PEMIKIRAN
PENDIDIKAN ISLAM AZYUMARDI AZRA
DI
INDONESIA
A.
Pengertian
Pendidikan Islam Azyumardi Azra
Azyumardi
Azra merumuskan, bahwa “pendidikan secara umum adalah proses pemindahan
nilai-nilai budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya.[1]” dengan kata lain pendidikan adalah suatu proses
dimana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri
diantara individu-individu.[2] Ditegaskan lagi bahwa Pendidikan adalah suatu
proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan
kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. [3]
Sebagaimana
disebutkan bahwa pendidikan adalah proses pemindahan nilai-nilai, maka dalam
pendidikan Islam ia menegaskan bahwa yang dimaksud pemindahan adalah nilai-nilainya,
yaitu nilai-nilai yang berasal dari sumber-sumber Islam yakni, al-Qur’an,
Sunnah, dan Ijtihad.[4]
Dan pandangan filsafatnya berdasarkan Islam, yaitu berdasarkan al-Qur’an dan
Hadits, kurikulumnya dari konsep-konsep Islam.[5]
Nilai-nilai itulah yang diusahakan oleh pendidikan Islam untuk dipindahkan dari satu generasi kepada generasi
selanjutnya, sehingga terjadi kesinambungan ajaran-ajaran Islam di
tengah-tengah masyarakat.[6]
Menurut
Azyumardi Azra pendidikan Islam adalah suatu
proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan
kepada Nabi Muhammad SAW., agar dapat mencapai derajat yang tinggi supaya ia
mampu menunaikan fungsinya sebagai khalifah
di muka bumi, dan berhasil mewujudkan kebahagiaan di Dunia dan Akhirat.[7]
Sebagaimana
pendapat Ahmad Tafsir dan Zakiah
Daradjat sebagai pembentukan pribadi Muslim, adapun Abdul Rahman Shaleh
mengungkapkan tugas sebagai khalifah. Jadi yang dimaksud dengan pendidikan
Islam dalam pandangan Azyumardi Azra adalah proses suatu bangsa dalam
mempersiapkan generasi mudanya (pembentukan individu)
untuk menjalankan kehidupan (sebagai khalifah) dan untuk memenuhi tujuan hidup secara
efektif dan efisien berdasarkan sumber-sumber Islam yakni, al-Qur’an, Sunnah,
dan Ijtihad.
B.
Kurikulum
Pendidikan Islam
1.
Tujuan
Pendidikan Islam
Lebih
lanjut sebagaimana dinyatakan Azyumardi Azra di atas bahwa pendidikan Islam kurikulumnya
berdasarkan konsep-konsep Islam, adapun salah satu konsep Islam yang dimaksud
adalah bermanfaaat bagi manusia karena ia sebagai khalifah Allah SWT. di bumi, oleh karena itu pendidikan Islam mencakup
semua bidang ilmu; baik itu ilmu agama maupun ilmu umum. Hal ini berdasarkan
sumber ilmu itu adalah satu, yakni Allah SWT.[8]
Pernyataannya
tersebut sebagai bukti bahwa beliau setuju dengan tidak adanya dikotomi
pendidikan secara isi, dan lembaganya bisa saja madrasah atau sekolah umum.
Dalam pendidikan Islam tidak mengenal nama, bisa saja namanya umum tapi isinya mengajarkan Islam
dan praktek-praktek agama Islam.[9]
Tujuan
pendidikan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik
agar dapat melaksanakan amal soleh dengan baik, yang tentunya dilandasi dengan
ilmunya dan dengan ilmunya dapat melaksanakan amal soleh, dengan demikian dapat
timbul manusia yang berilmu dan bertakwa, sebagai tujuan akhir pendidikan
sehingga menjadi Insan Kamil; Insan Takwa.[10]
Secara garis besar tujuan pendidikan Islam yang diungkapkan oleh Azyumardi, Mahmud
Yunus, Ahmad Tafsir, al-Syaibani dan Syahminan memiliki kesamaan yaitu berpadunya
tiga ranah pendidikan dalam diri peserta didik; kognitif, afektif, dan
psikomotor, atau terintegrasinya antara ilmu, iman dan amal.
Terbentuknya
kepribadian utama berdasarkan nilali-nilai dan ukuran Islam adalah salah satu
tujuan pendidikan Islam. Sedangkan tujuan akhir dari pendidikan Islam tidak
lepas dari tujuan hidup seseorang Muslim. [11]
Tujuan hidup Muslim sebagaimana di-firmankan Allah SWT. :
$tBur
àMø)n=yz
£`Ågø:$#
}§RM}$#ur
wÎ)
Èbrßç7÷èuÏ9
ÇÎÏÈ
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariiyat: 51; 56).
Dan
firman Allah SWT:
$pkr'¯»t
tûïÏ%©!$#
(#qãYtB#uä
(#qà)®?$#
©!$#
¨,ym
¾ÏmÏ?$s)è?
wur
¨ûèòqèÿsC
wÎ)
NçFRr&ur
tbqßJÎ=ó¡B
ÇÊÉËÈ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam. (Q.S. ali- Imran : 3 ;102)
Tujuan
hidup Muslim sebagaimana dijelaskan ayat-ayat al-Qur’an di atas, juga menjadi
tujuan akhir pendidikan Islam. Yakni
untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah SWT. Yang selalu bertakwa dan
mengabdi kepada-Nya. Sebagai hamba Allah yang bertakwa, maka segala sesuatu
yang diperoleh dalam proses pendidikan Islam
Itu tidak lain termasuk dalam bagian perwujudan pengabdian kepada Allah SWT.[12]
2.
Sumber
Pendidikan Islam
Sumber-sumber
pendidikan Islam dalam pandangan Azyumardi azra terdiri atas enam;
1. Al-Qur’an,
sebagai kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad menjadi sumber pendidikan Islam yang pertama
dan utama.
2. Sunnah Nabi Muhammad;
segala yang dinukilkan dari Nabi SAW,
baik berupa perkataan, perbuatan maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat,
kelakuan perjalanan hidup; baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW diangkat
menjadi Rasul, maupun sesudahnya. Oleh sebab sunnah mencerminkan prinsip,
manifestasi wahyu dalam segala perbuatan, perkataan dan taqriri nabi, maka
beliau menjadi tauladan yang harus diikuti.
3. Kata-Kata Sahabat Nabi
Saw. Para sahabat nabi bergaul dengannya
dan banyak mengetahui Sunnah Nabi yang menjadi sumber kedua pendidika Islam.
4. Kemaslahatan Masyarakat.
Maslahat artinya membawa manfaat dan menjauhkan mudharat. Tegaknya manusia
dalam agama, kehidupan dunia dan akhiratnya adalah dengan berlakunya kebaikan dan terhindarnya
dari keburukan. Kemaslahatan manausia tidak mempunyai batas dimana harus
berbakti. Ia berkembang dan berubah dengan perubahan zaman dan berbeda menurut
tempat.
5. Nilai-Nilai Adat dan
Kebiasaaan-Kebiasan Sosial. Adat dan kebiasaan
tersebut tentunya yang positif. Hal ini sesuai dengan pandangan, bahwa
pendidikan adalah usaha pemeliharaan, pengembangan dan pewarisan nilai-nilai
budaya masyarakat yang positif.
6. Hasil
Pemikiran-Pemikiran dalam Islam. Pemikiran yang
dimaksud adalah pemikiran para filosof, pemikiran pemimpin, dan intelektual
muslim khususnya dalamb idang pendidikan dapat dijadikan referensi (sumber)
bagi pengembangan pendidikan Islam.[13]
Berbeda
dengan Ahmad Tafsir yang menyatakan
bahwa sumber Pendidikan Islam ada tiga; al-Qur’an, as-Sunnah, dan akal.
Sumber-sumber inilah yang melandasi bagi
pemikiran pendidikan Islam Azyumardi Azra
sebagai cendekiawan yang rasionalis, modernis, demokratis, dan toleran
sebagai pelanjut perjuangan rektor-rektor IAIN Jakarta sebelumnya yang
sekaligus sebagai guru-gurunya; Prof. Dr. Harun Nasution dan H.M. Quraish
Shihab.
3.
Materi/
Isi Pendidikan Islam
Allah
SWT adalah sumber pendidikan utama bagi setiap Muslim. Dia memberikan
pengetahuan dan pengajaran kepada manusia melalui wahyu kepada utusann-Nya.
Nabi Muhammad SAW mendidik dan mengajar manusia berdasarkan cita-cita dan
prinsip-prinsip ajaran Tuhan; menyuarakan dan menyiapkan penganut Islam untuk
menegakkan keadilan; kesejahteraan guna terwujudnya masyarakat yang diridhai
Allah.[14]
Materi
pendidikan Islam dalam pandangannya sangat luas, meliputi semua ilmu. Setiap
ilmu yang baik/ bermanfaat adalah Islam. Ilmu dalam Islam semua yang ada di alam (Dunia)
dengan landasan kemanfaatannya, keperluannya dan bagi bangsa Indonesia. Pendangannya tentang
materi pendidikan Islam sebagaimana para filosof terdahulu, seperti al-Farabi, Ibn- Khaldun, Ibn Sina juga al-Ghazali,
yaitu Ilmu dalam Islam ada dua sumber, pertama ayat kauniyah; ilmu yang diambil atau berasal dari alam semesta,
antara lain fisika, Biologi, Matematika, Kedokteran, Humaniora dan lain
sebagainya , kedua ayat kauliyah;
ilmu yang diambil dari al-Qur’an dan Hadis Nabi, seperti Tafsir, Fikih, Ushul
Fikih dan lain sebagainya.
Semua
ilmu yang bermanfaaat bagi manusia itu Islam, sampai Keilmuan Farmasi dan
Kedokteran, karena Islam itu sehat, demikian juga Teknologi sehingga lulusannya
dapat membuat alat-alat untuk pemenuhan kebutuhan manusia, seperti tranportasi;
pesawat boing, sehingga ketika ke Arab
untuk menunaikan haji bisa digunakan tanpa memakai dari orang-lain Islam.
Beliau
menjelaskan bahwa Matematika, IPA; Fisika-Biologi, IPS, adalah ilmu-ilmu Islam
yang diambil dari ayat-ayat kauniyah.
Sedangkan al-Qur’an, Hadits, Tafsir, ilmu-ilmu Islam dari ayat-ayat qauliyah.[15]
Dalam pendidikan harus memperhatikan aspek kognisi sehingga dengan pengetahuan dapat
diinternalisasikan dalam aspek afektif lebih lanjut ilmu yang didapat mampu
diamalkan (psikomotorik).
4.
Metode
Pendidikan Islam
Adapun
metode dan setrategi harus meliputi tiga aspek kepribadian peserta didik; Kognitif,
Afektif, dan Psikomotor. Semua metode (sebagaimana dibahas di bab II) digunakan
agar terjadi proses pembelajaran yang efektif dan efesien sehingga mampu
mencapai tujuan pembelajaran nasional.
Metode
dalam pendidikan Islam harus partisipasi; peserta didik dilibatkan ikut serta
secara langsung dalam memperoleh pengetahuan.
Adapun dalam penggunaan metode beliau mengingatkan agar disesuaikan
dengan perkembangan peserta didik. Penggunaan metode yang sesuai sangat
ditekankan, karena pengetahuan, nilai-nilai moral yang ada di dalamnya akan
dapat dengan mudah diterima dan diamalkan oleh peserta didik.
Proses
pembelajaran membutuhkan metode yang berfariasi, sehingga tidak menimbulkan
kejemuan dan kebosanan bagi peserta didik. “ Peserta didik jangan hanya dijejali/
diceramahi atau menggunakan metode ceramah saja, tetapi beri ruang anak untuk
berpikir, mencari sendiri dari buku-buku bacaan dan melaporkan hasilnya,
mengakses internet dan lain sebagainya”.[16]
Lebih lanjut ia mengatakan : “Untuk pendidikan solat, maka peserta didik
langsung diajak praktek solat di Musholla atau masjid”. Dalam pendidikan Islam
harus adanya ilmu juga amal, ia berpandangan bahwa keseimbangan antara teoritis
dan praktis itulah Islam, dengan demikian akan memberikan manfaat baik di Dunia
sampai Akhirat. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa hal-hal yang memberi manfaat
(kebaikan) itulah Islam; termasuk ilmu-ilmu alam (Natural Science), seperti IPA, MIPA, Fisika, Biologi, Matematika dan
lain sebagainya. Tak ketinggalan ia juga menyebutkan ilmu-ilmu sosial (Social Science) yang memberi manfaat
kebaikan juga sebagai Islam; layaknya Ekonomi, Sosiologi dan lain sebagainya.[17]
5.
Evaluasi
Pendidikan Islam
Azyumardi
dalam menanggapi Evaluasi dalam pendidikan Islam sebagaimana yang dilakukan
oleh Benjamin S. Bloom, yaitu dengan menggunakan tiga domain: aspek kognitif,
aspek afektif, dan aspek motorik/ psikomotor.
Pertama,
aspek kognitif, penguasaan ilmu pengetahuan. Sebagaimana ajaran dasar Islam
mewajibkan mencari ilmu pengetahuan bagi setiap Muslim dan Muslimat. Adapun
ketercapaian dalam aspek ini dapat diketahui dengan cara tes objektif dengan
memberikan tes tertulis dengan alat pilihan ganda (multiple choice).
Kedua,
Aspek afektif; setiap siswa (peserta didik) setelah mengikuti proses
pembelajaran diharapkan memiliki kemampuan dalam penguasaan dan pengembangan
ilmu pengetahuan. “Dalam pendidikan
Islam evaluasinya tidak cukup dengan pilihan ganda (multiple choice), tapi dapat dilihat dari sikap/ ranah afektif.”[18]
Ilmu pengetahuan yang didapat dari pendidikan Islam terikat oleh nilai-nilai
akhlak (karater) atas dasar ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, maka
kejujuran, sikap tawadhu’, menghormati sumber pengetahuan merupakan
prinsip-prinsip penting yang harus dipegangi oleh setiap pencari ilmu.[19]
Aspek afektif evaluasinya menggunakan
jenis non-tes dengan alat observasi dan wawancara.
Ketiga, Aspek motorik;
pengetahuan bukan hanya untuk diketahui, dan dikembangkan, melainkan sekaligus
dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Di dalam Islam mengetahui sesuatu ilmunya
pengetahuan sama pentingnya dengan pengamalannya secara kongkrit.[20]
Dengan
demikian ia menginginkan keseimbangan terhadap penguasaan peserta didik dalam
berbagai aspeknya; pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, keterampilan, atau
dengan istilahnya tiga ranah pendidikan kognitif, afektif, dan motorik.
6.
Karakteristik
Pendidikan Islam.
Pendidikan
Islam memiliki ciri khas dan ini menjadi karakteristik tersendiri bagi pendidikan
Islam, sebagaimana yang diungkapkan Azyumardi bahwa karakteristik pendidikan
Islam adalah sebagai berikut:
Pertama,
penguasaan ilmu pengetahuan. Ajaran dasar Islam mewajibkan mencari ilmu
pengetahuan bagi setiap Muslim dan Muslimat. Setiap Rasul yang diutus Allah
lebih dahulu dibekali ilmu pengetahuan, dan mereka diperintahkan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan.
Kedua,
pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu yang telah dikuasai harus diberikan dan
dikembangkan kepada orang lain. Nabi Muhammad sangat menekankan hal ini dengan
sabdanya: “Ballighu ‘anni walau ayatan”,
artinya; sampaikan dariku walau satu ayat”
Sebaliknya ia sangat membenci orang yang memiliki ilmu pengetahuan, tetapi
tidak mau memberi dan mengembangkannya kepada orang lain. Sabda Nabi Muhammad SAW;
“Katimu al ilmi yal’anuhu kullu syai-in
hatta al-hutu fi al-bahri wa al-thairu fi as-sama’, artinya: orang-orang yang menyembunyikan ilmu akan
dilaknat oleh semua makhluk, termasuk ikan di laut dan burung di langit. ”
(Riwayat Ibnu al-Jauzi dari Said)
Ketiga,
penekanan pada nilai-nilai akhlak
(karakter) dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan
yang didapat dari pendidikan Islam terikat oleh nilai-nilai akhlak (karakter).
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Innama
bu’istu li utammima makarima al akhlaq; artinya: tidaklah aku diutus kecuali
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Karakteristik
keempat, penguasaan dan pengembangan
ilmu pengetahuan, hanyalah untuk pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umum.
Sabda Nabi Muhammad SAW: “ta’allamu min
al-‘ilmi ma syi’tum fawa Allahi la tu’jaruna bijam’i al-‘ilma hatta ta’malu;
artinya: tuntutlah ilmu olehmu sekalian
ilmu pengetahuan itu sekehendakmu, tetapi demi Allah, mereka tidak akan memperoleh
pahala karena mengumpulkan ilmu saja, tanpa diamalkan.” (HR. Abu Al-Hasan
bin Khazem dari Anas)
Karakteristik
kelima, adalah penyesuaian kepada
perkembangan anak. Pendidikan Islam diberikan kepada anak sesuai dengan umur,
kemampuan, perkembangan jiwa dan bakat anak.
Karakteristik
keenam, adalah pengembangan
kepribadian. Bakat alami dan kemampuan pribadi tiap-tiap anak didik diberikan
kesempatan berkembang sehingga bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.
Pengembangan kepribadian itu berkaitan dengan seluruh nilai dan sistem Islam,
sehingga setiap anak dapat diarahkan untuk mencapai tujuan Islam.
Karakteristik ketujuh, adalah penekanan pada amal saleh dan tanggung jawab.
Setiap anak didorong untuk mengamalkan ilmu pengetahuan sehingga benar-benar bermanfaat
bagi diri, keluarga dan masyarakat Islam secara keseluruhan. Amal saleh dan
tanggung jawab itulah yang
menghantarkannya kelak kepada kebahagiaan di hari kemudian kelak. Sebagaimana
sabda Nabi Muhammad SAW: “Idza mata
al-insanu inqoto’a ‘amaluhu illa min salasin sodaqotin jariatin aw ‘ilmin
yuntafa’u bihi aw waladin salihin yad’u lahu: artinya: bila manusia mati, putuslah segala usahanya kecuali tiga hal: sodaqah
jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR.
Muslim)
7.
Lembaga
Pendidikan Islam
Menyikapi
tentang lembaga pendidikan Islam Azyumardi mengutip pendapat Marimba, bahwa
lembaga pendidikan adalah “Organisasi atau kelompok manusia yang karena satu
dan lain hal memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan. Badan-badan
itu bertugas memberi pendidikan kepada siterdidik, selanjutnya ia mengatakan bahwa lembaga-lembaga
pendidikan Islam tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Beliau merujuk kepada zaman Rasulullah SAW ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah,
maka yang pertama di bangun adalah masjid, sebagai pusat aktivitas masyarakat. [21]
“Lembaga pendidikan Islam ditentukan
berdasarkan pandangan filosofinya Islam, yaitu yang berdasarkan al-Qur’an dan
Sunnah, adapun nama boleh yang eksplisit
maupun inplisit; eksplisit artinya menampilkan/ memakai nama/ label Islam, seperti
Perguruan Tinggi Islam, Madrasah. Sedangkan inplisit,
artinya lembaga yang tidak menampilkan/ memakai lebel Islam, seperti Dwi Warna
di Parung (kurikulumnya Islam).”[22]
Lembaga-lembaga formal Islam mengambil bentuk yang bermacam-macam pada kalangan
masyarakat Muslim berbagai Negara, antara lain Darul Hikmah, al-Kuttab,
Madrasah, Pesantren, Sekolah Islam dan lain sebagainya.[23]
Lembaga-lembaga
pendidikan tersebut berusaha menciptakan situasi proses pendidikan yang berlangsung
sesuai dengan tugas yang dibebankan kepadanya.
Berdasarkan
fungsi dan tugas, lembaga-lembaga tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar: keluarga,
sekolah-sekolah, dan badan-badan pendidikan kemasyarakatan di luar keluarga dan
sekolah. Ketiga lembaga itu disebut sebagai tripusat
pendidikan, yang merupakan satu
kesatuan yang saling membantu dan mendukung dalam usaha memberikan
pendidikan.
a)
Keluarga
Keluarga
adalah lembaga pendidikan informal yang sangat penting dalam membentuk generasi
muda muslim.
Pendidikan
informal adalah kegiatan pendidikan yang tidak diorganisasi secara struktural dan sama sekali tidak mengenal penjenjangan kronologis menurut
tingkatan umum maupun tingkatan keterampilan dan pengetahuan.
Keluarga
merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak/ peserta didik dan
merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya. Apa yang terjadi dalam keluarga merupakan
proses pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak/ peserta
didik selanjutnya. Oleh karena itu, sikap keagamaan, akhlak, akal pikiran,
tingkah laku sosial dan budaya anak banyak dibentuk dan dipengaruhi oleh
pendidikan dalam keluarga. Jadi karakter anak, baik-tidaknya banyak ditentukan
oleh keluarga, maka fungsi dan tugas keluarga adalah menanamkan dan membentuk serta
menjaga anak agar memiliki karakter yang baik.
Dalam
mempertegas fungsi dan tugas keluarga
dalam pendidikan, Azyumardi mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, yang
artinya: ”Setiap anak dilahirkan dalam
keadaan suci sampai ia dapat berbicara. Maka orang tuanyalah yang
me-yahudi-kannya, me-nasrani-kannya, dan me-majusi-kannya.”[24]
(H.R. Muslim).
Sebagaimana Mahmud Syaltut, muthahhari, dan juga
Quraish Shihab, Azyumardi menyatakan bahwa keluarga merupakan basis dari ummah (bangsa); dan
karena itu keadaan keluarga sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri. Bangsa
terbaik (khayr ummah) yang merupakan
ummah wahidah (bangsa yang satu) dan ummah wasath (bangsa
yang moderat), sebagaimana dicita-citakan Islam hanya dapat terbentuk melalui
keluarga yang dibangun dan dikembangkan atas dasar mawaddah wa rahmah.
Menegaskan tentang keluarga,
Azyumardi mengutip hadits yang diriwayatkan Anas r.a, keluarga yang baik
memiliki empat ciri. Pertama;
keluarga yang memiliki semangat (ghirah) dan kecintaan untuk mempelajari
dan menghayati ajaran-ajaran agama dengan sebaik-baiknya untuk kemudian
mengamalkan dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, keluarga di mana setiap
anggotanya saling menghormati dan menyayangi; saling asah dan asuh. Ketiga, keluarga yang dari segi nafkah
(konsumsi) tidak berlebih-lebihan; tidak ngoyo atau tidak serakah dalam
usaha mendapatkan nafkah; sederhana atau tidak konsumtif dalam pembelanjaan. Keempat, keluarga yang sadar akan
kelemahan dan kekurangannya; dan karena itu selalu berusaha meningkatkan ilmu
dan pengetahuan setiap anggota keluarganya melalui proses belajar dan
pendidikan seumur hidup (life long learning), min al-mahdi ila
al-lahdi (sejak lahir hingga liang
lahat; kubur).[25]
Adapun
selain orang tua dalam memberikan pendidikan hanya sebagai keikutsertaan. Namun
karena keterbatasan orang tua dalam mendidik, sehingga telah menjadi umum orang
tua memberikan kepercayaan kepada
sekolah/ guru.
b)
Sekolah-Sekolah
Pendidikan
sekolah adalah pendidikan formal dalam arti, pendidikan yang mempunyai dasar,
tujuan, isi, metode, alat-alatnya disusun secara eksplisit, sistematis, dan
distandarisasikan.[26]
Dengan
lengkapnya unsur-unsur pendidikan di sekolah diharapkan mampu menyempurnakan
pendidikan yang telah dilaksanakan di keluarga dan seyogyanya tidak boleh
berlawanan/ bertentangan dengan yang diajarkan di keluarga.
Di
sekolah dasar, bagi peserta didik diberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan,
selanjutnya pengetahuan umum yang diberikan haruslah berfungsi untuk melatih
dan menyiapkan anak/ peserta didik untuk mampu berpikir dan bekerja.
Dalam
pandangan Azyumardi, usaha yang mesti dilakukaan dalam rangka memajukan masa
depan pendidikan Islam adalah dengan cara mengintegrasikan ajaran-ajaran ideologi dan pandangan Islam
secara menyeluruh ke dalam mata pelajaran (subject
matter) ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah, antara lain melalui
mengintegrasikan nilai-nilai dan ideologi Islam ke dalam teori-teori ilmu sosial,
Kemanusiaan, Filsafat, Sosiologi dan Kebijakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagaimana
yang telah dirumuskan dalam Konferensi Pendidikan Islam se-Dunia di Jeddah
tanggal 31 Maret – 8 April 1977.[27]
Di samping itu juga mestilah memberikan pendidikan keagamaan, akhlak, sesuai
dengan ajaran-ajaran agama (pendidikan nilai).
Sekolah
sebagai lembaga pendidikan. Sekolah, pada hakikatnya bukanlah sekedar tempat “transfer
of knowledge” belaka. Azyumardi mengutip Fraenkel:
‘Sekolah tidaklah
semata-mata tempat di mana guru menyampaikan pengetahuan melalui berbagai mata
pelajaran. Sekolah juga adalah lembaga yang mengusahakan usaha dan proses
pembelajaran yang berorientasi pada nilai (value-oriented enterprise)’. Lebih
lanjut, Fraenkel mengutip John Childs yang menyatakan: ‘Organisasi sebuah
sistem sekolah dalam dirinya sendiri merupakan sebuah usaha moral (moral
enterprise), karena ia merupakan usaha sengaja masyarakat manusia untuk
mengontrol pola perkembangannya’.[28]
Pembentukan watak dan pendidikan karakter melalui sekolah, dengan demikian,
tidak bisa dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi
adalah melalui penanaman atau pendidikan nilai-nilai.
Kajian tentang nilai biasanya mencakup dua bidang pokok,
estetika, dan etika (atau akhlak, moral, budi pekerti). Estetika mengacu kepada
hal-hal tentang dan justifikasi terhadap apa yang dipandang manusia sebagai “Indah”,
apa yang mereka senangi. Sedangkan etika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi
terhadap tingkah laku yang pantas berdasarkan standar-standar yang berlaku
dalam masyarakat, baik yang bersumber dari agama, adat istiadat, konvensi, dan
sebagainya. Dan standar-standar itu adalah nilai-nilai moral atau akhlak
tentang tindakan mana yang baik dan mana yang buruk.[29]
Pembentukan watak dan pendidikan karakter pada
peserta didik merupakan keniscayaan dan sesuatu yang sangat mendesak dengan
penanaman nilai-nilai akhlak melalui pendidikan agama dan budi pekerti
(penguasaan ilmu pengetahuan), serta teladan dari para pendidik (orang tua,
guru, dan masyarakat) tentang sikap, perasaan dan intuisi baik itu berasal dari
adat istiadat masyarakat setempat ataupun lingkungan masyarakat luas.
Ilmu
tidak hanya untuk ilmu tapi juga dapat berpartisipasi dalam kehidupan.
”Pengamalan ilmu pengetahuan atas dasar tanggung jawab kepada Tuhan dan
masyarakat manusia merupakan karakteristik pendidikan Islam …pengetahuan bukan
hanya untuk diketahui dan dikembangkannya, melainkan sekaligus dipraktikkan
dalam kehidupan nyata…konsistensi antara apa-apa yang diketahui dengan pengamalannya dalam kehidupan
sehari-hari…di dalam Islam mengetahui sesuatu ilmu pengetahuan sama pentingnya
dengan pengamalannya secara kongkret ”.[30]
hal ini membuktikan bahwa dalam pemikirannya harus ada keseimbangan antara ilmu
teoritis/ konsep dan praktis, jiwa dan raga, jasmani dan rohani, dunia dan
akhirat.
c)
Badan-Badan
Pendidikan Kemasyarakatan di Luar Keluarga dan Sekolah.
Lembaga
pendidikan ini berorientasi langsung kepada hal-hal yang bertalian dengan
kehidupan. Pendidikan masyarakat merupakan pendidikan yang menunjang pendidikan
keluarga dan sekolah.
Dalam
perkembangannya, lembaga pendidikan Islam ini menjadi sarana pengembangan
pribadi ke arah kesempurnaan sebagai hasil dari pengumpulan dan latihan secara
terus-menerus. Bahkan pendidikan kemasyarakatan Islam dewasa ini banyak menekankan kepada kebutuhan
praktis ekonomis, baik dalam bidang sosial, budaya maupun agama.
Lembaga
pendidikan kemasyarakatan Islam dapat mengambil bentuknya, berupa; organisasi,
kepanduan, perkumpulan pemuda, olah raga, kesenian, remaja masjid, majlis
taklim, koperasi, pusat keterampilan dan latihan, partai politik, perkumpulan
agama dan lain-lain.[31]
Lingkungan masyarakat luas jelas memiliki pengaruh besar
terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai estetika dan etika untuk
pembentukan karakter. Dari perspektif Islam, menurut Quraish Shihab, situasi
kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara
pandang masyarakat secara keseluruhan. [32]
Peran
serta masyarakat muslim dalam pendidikan atau perguruan keagamaan sangat
signifikan bahkan sangat dominan. Hal ini ditandai dengan banyak masyarakat
Muslim yang mengambil posisi terdepan dalam pendirian, pengembangan dan
pemberdayaaan pendidikan keagamaan.[33]
Azyumardi membuat kerangka peran serta masyarakat dalam peberdayaan pendidikan,
antara lain;
1) Peningkatan
peran serta masyarakat dalam pemberdayaan manajemen pendidikan; segi financial
dan organisasi.
2) Peningatan
peran serta masyarakat dalam pengembangan
pendidikan/ perguruan Islam yang quality oriented, yakni pendidikan yang
berkualitas dan berkeunggulan.
3) Peningkatan
peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar belajar lain
yang terdapat dalam masyarakat.[34]
Melayani
masyarakat dengan pendekatan Islam, dengan mempraktikkan ilmu pengetahuan, maka
akan memberikan manfaat kebaikan kepada masyarakat, tentunya dengan norma-norma
yang diajarkan oleh Islam, sebagaimana ilmu kedokteran adalah Islam, oleh
karenanya orang Islam harus sehat, harus bersih dan orang Muslim harus mampu
memanfaatkan alat-alat kedokteran, sehingga orang Islam bila berobat tidak
kepada orang non-Islam. Lebih lanjut Azyumardi dalam mengomentari tentang
dokter kandungan harusnya orang perempuan, inilah yang Islam, sesuai dengan
fitrahnya ngurusi tentang kewanitaan, bertentangan dengan kodratnya bila
dokternya laki-laki.[35]
Pengembangan
pendidikan Islam lulusannya harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan sehingga
dapat bersaing dengan perkembangan global.[36]
Umat Islam harus mampu bersaing dalam dunia global, “Jika kaum Muslimin,
termasuk Indonesia-tidak hanya ingin sekedar survive ditengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat,
tetapi juga berharap mampu tampil ke depan, maka reorientasi pemikiran mengenai
pendidikan Islam dan restrukturisasi sistem dan kelembagaan jelas merupakan
keniscayaan. Cara pandang yang menganaktirikan
iptek tampak tidak bisa dipertahankan lagi.[37]Ia
membuktikan ucapannya tersebut dengan merubah perguruan tinggi IAIN menjadi
UIN; hal ini mengharuskan dibukanya fakultas-fakultas yang bermuatan ilmu-ilmu
umum, disamping ilmu-ilmu agama.
Dibukanya
fakultas-fakultas umum di UIN Jakarta karena banyak dari sekolah yang semula
banyak mengajarkan agama, seperti MAN atau sejenisnya telah banyak mengajarkan
ilmu-ilmu umum sehingga bila UIN tetap memakai paradigma
lama, maka akan kehilangan mahasiswanya.
Dengan
dibukanya fakultas-fakultas yang bermuatan ilmu-ilmu umum disamping ilmu-ilmu agama, memungkinkan
peluang lulusannya untuk dapat memasuki departemen-departemen yang lebih banyak
lagi disamping departemen agama.
C.
Perguruan
Tinggi / Universitas Islam Negeri (UIN)
Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) merupakan perkembangan lanjutan dari Perguruan Tinggi
Agama Islam Negeri (PTAIN)[38]
yang terletak di Yogyakarta dan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta
yang didirikan taggal 1 Juni 1957.[39]
Didirikannya
IAIN dengan maksud untuk memperbaiki dan memajukan pendidikan tenaga ahli agama
Islam guna keperluan pemerintah dan
masyarakat, disamping itu pasal 2 Peraturan Presiden No. 11 tahun 1960 tentang
Pembentukan IAIN ditegaskan, Institut
Agama Islam Negeri bermaksud untuk memberikan pengajaran tinggi dan menjadi
pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama.
Dengan mempertinggi taraf pendidikan dalam lapangan agama ilmu pengetahuan
Islam adalah berarti mempertinggi taraf kehidupan bangsa Indonesia dalam lapangan kerohanian
(spiritual) dan ataupun dalam taraf intelektualismenya.[40]
Dengan
landasan diatas, maka IAIN harus mampu memberikan respon dan jawaban terhadap
tantangan-tantangan zaman, oleh karena itu IAIN memiliki tanggung jawab kepada
pemerintah dan kepada masyarakat. Tanggung jawab kepada pemerintah yang disebut
academic expectations, yaitu berupa
mengembangkan dirinya sebagai pusat studi dan pengembangan Islam, dan yang lainnya adalah tanggung jawab
kepada masyarakat yang disebut dengan social
expectations, yaitu berupa memberikan warna dan pengaruh ke-Islam-an kepada masyarakat Islam secara keseluruhan.[41]
Ditangan
Azyumardi, IAIN dikenal sebagai “Kampus Pembaharu” yang akan menyumbangkan
pembaharuan dalam bidang akademik maupun pemikiran perubahan bagi masyarakat.
Dalam bidang akademik ia berusaha menghilangkan dikotomisasi ilmu pengetahuan
dengan cara mengintegrasikan ilmu
pengetahuan agama dengan ilmu
pengetahuan umum, “Untuk tahap ini,
secara akademik saya sedang berupaya menghapus kesan dikotomis antara ilmu
agama dan ilmu umum, saya mencoba mengintegrasikannya.” tukas Azyumardi.[42]
Pergantian
IAIN menjadi UIN adalah perubahan yang
sangat positip, dengan menjadi universitas
bisa menentukan kurikulum secara mandiri baik kurikulum yang berhubungan
dengan ilmu agama maupun ilmu umum, karena perkembangan keilmuan selama ini terjadi dikotomisasi
antara keduanya.[43] Maka
dengan perubahan ini akan memberikan peluang yang besar untuk
mengintegrasikan ilmu pengetahuan
sehingga akan menguntungkan kepada para lulusannya karena mendapatkan peluang kerja
yang lebih banyak lagi. Disamping itu Dengan perubahan IAIN menjadi universitas
untuk menegaskan kembali bahwa ilmu Islam sangat luas, mencakup pula ilmu umum
yang bermanfaat bagi kepentingan umat manusia, dan karenanya, menyumbang sangat
besar bagi peradaban umat manusia.
Perubahan
ini sebagai kelanjutan dari ide rektor pendahulu dan sekaligus gurunya yaitu Prof. Dr. Harun Nasution, ia menginginkan lulusan IAIN haruslah orang
yang berpikiran rasional, modern,
demokratis, dan toleran. “ Pak Harun
ingin lulusan IAIN memiliki pandangan luas dan komprehensif tentang Islam,
tidak sepotong-sepotong. Islam tidak boleh dianggap sebagai doktrin saja,
tetapi juga realitas historis yang memengaruhi masyarakat,” komentar
Azyumardi.[44] lulusan
yang tidak membedakan ilmu agama dan ilmu umum, tidak memahami agama secara
literer, menjadi Islam yang rasional
bukan Islam yang madzhabi atau terikat pada madzhab tertentu saja.[45]
Dengan
berubahnya IAIN menjadi UIN, maka bermunculanlah fakultas Sains, Ekonomi, Teknologi,
MIPA, Komunikasi, Matematika, dan lain-lain. Pandangan Azyumardi terhadap
kurikulum perguruan tinggi di zaman yang modern ini harus ditingkatkan dan
diberi masukkan yang beragam, berbobot
dan menarik, sedikit tapi bernilai serta tidak menjadi beban bagi para
mahasiswa. “Menurut hemat saya, di zaman modern ini, sistem pendidikan Islam
harus diperbaharui; kurikulum harus ditingkatkan dengan memasukkan topik-topik beragam,
berbobot , menarik.”[46]
Kurikulum harus disederhanakan, mata kuliah tidak mesti banyak, sedikit tapi mendalam, ia menjelaskan bahwa
mata kuliah tidak usah banyak-banyak yang akhirnya akan menjadikan beban bagi
mahasiswa, sebagaimana contoh ia menyebutkan seperti di Sekolah Pascasarjana[47]
cukup tiga sampai lima mata kuliah saja, yang dibesarkan bobot SKS-nya (dari
3-6).[48]
Idealnya beban mahasiswa setiap semester tidak lebih dari 5 mata kuliah (antara
3-5).[49]
Dengan
perubahan tersebut, maka akan dapat menghasilkan lulusan yang mampu bersaing
dengan pasar global di zaman modern ini. Untuk itu para pendidik dan tenaga
kependidikan juga harus ditingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnya dengan
cara pengiriman ke universitas-universitas besar di Barat dimana mereka akan
mendapat pelatihan dalam pengajaran dan metodologi penelitian, interpretasi dan
analisis.
Pendidikan
Islam dalam pandangan Azyumardi haruslah melakukan perubahan secara signifikan.
Adapun untuk mencapai perubahan pendidikan Islam itu, dengan cara perubahan
dalam pemikiran dan kelembagaan. Pemikirannya
harus bebas, rasional, modern, demokratis dan toleran (Sebagaimana
Puncak Kejayaan/ Keemasan Islam di Zaman Klasik).
Sedangkan
secara kelembagaan ia mengutip Shipman bahwa kelembagaan memiliki tiga fungsi;
sosialisasi, penyekolahan (schooling),
dan pendidikan (education). Sosialisasi bermaksud pendidikan sebagai
wahana integrasi bagi anak didik (peserta didik) ke dalam nilai-nilai kelompok
atau nasional yang dominan. Adapun penyekolahan (schooling) berarti mempersiapkan peserta didik untuk menduduki
posisi sosial-ekonomi tertentu. Begitu juga dengan education atau pendidikan, yaitu untuk menciptakan kelompok elit.[50]
Untuk
mewujudkan perubahan tersebut, maka dalam masa kepemimpinannnya sebagai pelanjut
perjuangan rektor sebelumnya, pada tahun
1998 telah ada sekitar 140-an dosen IAIN Jakarta yang sedang menyelesaikan
program S2 dan S3, baik di dalam maupun di luar negeri.
Pengiriman
dosen dalam peningkatan kualitas pendidik tersebut ada dua kecenderungan; pertama, untuk ilmu-ilmu agama, seperti Tafsir,
Fiqih, atau Hadis kami mengirimnya ke Timur Tengah, seperti Universitas
Al-Azhar dan Universitas Madinah. Kedua,
ilmu-ilmu yang berhubungan dengan
ilmu-ilmu sosial dan humaniora
yang lain, metodologi dan pengembangan keilmuan, kami mengirim ke Barat.[51]
Sifat
dari kedua kubu (Timur Tengah- Barat) tersebut memang berbeda; Universitas di
Timur Tengah lebih menekankan pada penguasaan teks atau hafalan; ilmu
diletakkan dalam hati (al-‘ilm fi
al-shudur), bukan di atas kertas sehingga ilmu sepenuhnya dimiliki dan
diinternalisasikan akibatnya cenderung normatif. Sedangkan di Barat lebih menekankan pada metodologi, pegembangan
sikap kritis dan analitis, lebih mementingkan nalar sehingga polanya cenderung
liberal.[52]
Menurut
Azyumardi, Idealnya pengiriman dosen program S2 dan S3 ini keduanya bisa
dipadukan, misalnya S2 di Timur Tengah, sedangkan S3-nya dilanjutkan di Barat.
Dengan perpaduan ini, maka jelas akan dapat menghasilkan kualitas
dosen-dosen yang ahli dalam keilmuan dan
serta memiliki sikap kritis dan analitis yang tajam. Dengan kualitas
dosen-dosen yang lulusan luar negeri itulah sehingga membuat horizon keilmuan
yang diterima mahasiswa jelas akan lebih
plural dan kompleks.
Diharapkan wawasan ke-Islam-an akademik yang
dikembangkannya harus memiliki wawasan
ke-Indonesia-an sebab hidup kampusnya di Indonesia, “Jadi, ke-Islam-an yang
akan kita kembangkan itu adalah ke-Islam-an yang konstekstual dengan Indonesia
karena tantangan umat Muslim di sini adalah tantangan Indonesia,” ujarnya.[53]
Pembentukan watak dan pendidikan karakter melalui sekolah, dengan demikian,
tidak bisa dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi
adalah melalui penanaman atau pendidikan nilai-nilai. Dalam hal ini merupakan
tanggungjawab bersama, masyarakat meliputi tenaga pendidik, orangtua, anggota
masyarakat, dan peserta didik itu sendiri. Semua komponen tersebut
hendaknya dapat bekerja sama dan saling membantu memberikan masukan,
terutama mengenai langkah-langkah penanaman
karakter bagi peserta didik.[54]
Kajian tentang nilai biasanya mencakup dua bidang pokok,
estetika, dan etika (atau akhlak, moral, budi pekerti). Estetika mengacu kepada
hal-hal tentang dan justifikasi terhadap apa yang dipandang manusia sebagai “Indah”,
apa yang mereka senangi.
Sedangkan etika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi terhadap
tingkah laku yang pantas berdasarkan standar-standar yang berlaku dalam masyarakat,
baik yang bersumber dari agama, adat istiadat, konvensi, dan sebagainya. Dan
standar-standar itu adalah nilai-nilai moral atau akhlak tentang tindakan mana
yang baik dan mana yang buruk.[55]
Pendidikan nilai tersebut akan dapat membentuk karakter bagi peserta didik,
pembentukan karakter dalam diri
individu, merupakan fungsi dari seluruh potensinya
(kognitif, afektif, maupun psikomotorik), dalam konteks interaksi kultural
(dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) yang berlangsung sepanjang hayat.
Azyumardi
memandang dalam pencarian, penguasaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam
pendidikan Islam sangat menekankan pada nilai-nilai akhlak (karakter). Sebagaimana
nilai-nilai kejujuran, sikap tawadhu’, menghormati sumber pengetahuan dan
sebagainya yang merupakan prinsip-prinsip penting yang perlu dipegangi setiap
pencari ilmu, dan Azyumardi menambahkan bahwa pencari ilmu pun perlu dihormati
dan disantuni, agar potensi-potensi (kognitif, afektif, dan motorik) yang
dimilikinya dapat teraktualisasi dengan sebaik-baiknya.
Demikian
dengan pencarian, penguasaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan merupakan
proses kerkelanjutan dan berkesinambungan yang pada prinsipnya berlangsung
seumur hidup yang dikenal dengan istilah long
life education (pendidikan sepanjang hayat).
[4] Ibid., h. 5
[5] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[7] Ibid.
[8] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[9] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada
hari Selasa, 21 Februari 2012
[10] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[12] Ibid., h. 8
[15] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[16] Hasil
wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[17] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[18] Hasil
wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[19] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi
Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 10
[20] Ibid.
[21] Sesungguhnya dalam
perjalanan dakwah Rasulullah SAW, maka dapat diambil pelajaran ketika sebelum
hijrah yaitu dengan menyampaikan/ menyeru kepada tauhid (mengesakan Tuhan)
dilanjutkan dengan melakukan pembinaan kepada pribadi-pribadi muslim (dari
rumah ke rumah); yang pelaksanaannya menggunakan rumah Arqam Bin Arqam,
[22] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[23] Azyumardi Azra, Esai, Op. cit, h. 17
[24] Ibid., h. 16
[25] http://www.google./karakteristik_pendidikan_islam_azyumardi_pendkarakter-Mktmr
Aisyiyah_asyumardi_azra_ co.id
dikutip tanggal 31 maret 2012
[28] http://www.google./karakteristik_pendidikan_islam_azyumardi_pendkarakter-Mktmr
Aisyiyah_asyumardi_azra_ co.id dikutip tanggal 31
maret 2012
[30] Azyumardi Azra, dalam
Abudin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan
Pendidikan Islam di Indonesia ; (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, 2005),
h. 407
[32]http://www.google./karakteristik_pendidikan_islam_azyumardi_pendkarakter-Mktmr
Aisyiyah _asyumardi_azra_ co.id
dikutip tanggal 31 maret 2012
[34] Ibid., h. 153
[35] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada hari selasa, 21 Februari 2012
[36] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada hari selasa, 21 Februari 2012
[37] Azyumardi Azra, Pendidikan, Loc. cit
[40] Ibid., h. 161
[43]
http://www.Researchgate.net/publication-studi-pemikiran
dikutip tanggal 21 Februari 2012
[44] Andina Dwifatma, Cerita Azra; Biografi Cendekiawan Muslim
Azyumardi Azra, (Jakarta: Erlangga, 2011), h. 73
[47] Ia (Azyumardi Azra)
sekarang menjabat sebagai direkturnya; Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
[48] Hasil wawancara
dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[49] Azyumardi Azra
dalam Abudin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia , (Jakarta:
PT.RajaGrafindo Persada, 2005), h. 410
[51] Azyumardi Azra, Islam Substantif; Agar Umat Tidak Jadi
Buih, (Bandung: Mizan, 2000), cet. Ke-1, h. 427
[52] Ibid.
[54] Nurla Isna Aunillah, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di
Sekolah, (Yogyakarta: Laksana, 2011), h. 108
[55]http://www.google./karakteristik_pendidikan_islam_azyumardi_pendkarakter-Mktmr
Aisyiyah_asyumardi_azra_ co.id dikutip tanggal 31 Maret 2012
baca lagi yuk sehingga dapat diaktualisasikan !
BalasHapus