Selasa, 29 Mei 2012

tesis halawi pemikiran pendidikan islam azyumardi azra 1


BAB IV
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM AZYUMARDI AZRA
DI INDONESIA

A.           Pengertian Pendidikan Islam Azyumardi Azra
Azyumardi Azra merumuskan, bahwa “pendidikan secara umum adalah proses pemindahan nilai-nilai budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya.[1]” dengan kata lain pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu.[2] Ditegaskan lagi bahwa Pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. [3]
Sebagaimana disebutkan bahwa pendidikan adalah proses pemindahan nilai-nilai, maka dalam pendidikan Islam ia menegaskan bahwa yang dimaksud pemindahan adalah nilai-nilainya, yaitu nilai-nilai yang berasal dari sumber-sumber Islam yakni, al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad.[4] Dan pandangan filsafatnya berdasarkan Islam, yaitu berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, kurikulumnya dari konsep-konsep Islam.[5] Nilai-nilai itulah yang diusahakan oleh pendidikan Islam untuk dipindahkan  dari satu generasi kepada generasi selanjutnya, sehingga terjadi kesinambungan ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat.[6]
Menurut Azyumardi Azra pendidikan Islam adalah  suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW., agar dapat mencapai derajat yang tinggi supaya ia mampu menunaikan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi, dan berhasil mewujudkan kebahagiaan di Dunia dan Akhirat.[7]
Sebagaimana pendapat Ahmad Tafsir  dan Zakiah Daradjat sebagai pembentukan pribadi Muslim, adapun Abdul Rahman Shaleh mengungkapkan tugas sebagai khalifah. Jadi yang dimaksud dengan pendidikan Islam dalam pandangan Azyumardi Azra adalah proses suatu bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya (pembentukan individu) untuk menjalankan kehidupan (sebagai khalifah) dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien berdasarkan  sumber-sumber Islam yakni, al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad.



B.            Kurikulum Pendidikan Islam
1.        Tujuan Pendidikan Islam
Lebih lanjut sebagaimana dinyatakan Azyumardi Azra di atas bahwa pendidikan Islam kurikulumnya berdasarkan konsep-konsep Islam, adapun salah satu konsep Islam yang dimaksud adalah bermanfaaat bagi manusia karena ia sebagai khalifah Allah SWT. di bumi, oleh karena itu pendidikan Islam mencakup semua bidang ilmu; baik itu ilmu agama maupun ilmu umum. Hal ini berdasarkan sumber ilmu itu adalah satu, yakni Allah SWT.[8]
Pernyataannya tersebut sebagai bukti bahwa beliau setuju dengan tidak adanya dikotomi pendidikan secara isi, dan lembaganya bisa saja madrasah atau sekolah umum. Dalam pendidikan Islam tidak mengenal nama, bisa  saja namanya umum tapi isinya mengajarkan Islam dan praktek-praktek agama Islam.[9]
Tujuan pendidikan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik agar dapat melaksanakan amal soleh dengan baik, yang tentunya dilandasi dengan ilmunya dan dengan ilmunya dapat melaksanakan amal soleh, dengan demikian dapat timbul manusia yang berilmu dan bertakwa, sebagai tujuan akhir pendidikan sehingga menjadi Insan Kamil; Insan Takwa.[10] Secara garis besar tujuan pendidikan Islam yang diungkapkan oleh Azyumardi, Mahmud Yunus, Ahmad Tafsir, al-Syaibani dan Syahminan memiliki kesamaan yaitu berpadunya tiga ranah pendidikan dalam diri peserta didik; kognitif, afektif, dan psikomotor, atau terintegrasinya antara ilmu, iman dan amal.
Terbentuknya kepribadian utama berdasarkan nilali-nilai dan ukuran Islam adalah salah satu tujuan pendidikan Islam. Sedangkan tujuan akhir dari pendidikan Islam tidak lepas dari tujuan hidup seseorang Muslim. [11] Tujuan hidup Muslim sebagaimana di-firmankan Allah SWT. :
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariiyat: 51; 56).
Dan firman Allah SWT:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡B ÇÊÉËÈ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.  (Q.S. ali- Imran : 3 ;102)
Tujuan hidup Muslim sebagaimana dijelaskan ayat-ayat al-Qur’an di atas, juga menjadi tujuan akhir  pendidikan Islam. Yakni untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah SWT. Yang selalu bertakwa dan mengabdi kepada-Nya. Sebagai hamba Allah yang bertakwa, maka segala sesuatu yang diperoleh dalam proses pendidikan Islam  Itu tidak lain termasuk dalam bagian perwujudan pengabdian kepada Allah SWT.[12]

2.              Sumber Pendidikan Islam
Sumber-sumber pendidikan Islam dalam pandangan Azyumardi azra terdiri atas enam;
1.    Al-Qur’an, sebagai kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad  menjadi sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama.
2.    Sunnah Nabi Muhammad; segala yang dinukilkan  dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan perjalanan hidup; baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW diangkat menjadi Rasul, maupun sesudahnya. Oleh sebab sunnah mencerminkan prinsip, manifestasi wahyu dalam segala perbuatan, perkataan dan taqriri nabi, maka beliau menjadi tauladan yang harus diikuti.
3.    Kata-Kata Sahabat Nabi Saw. Para sahabat nabi bergaul dengannya dan banyak mengetahui Sunnah Nabi yang menjadi sumber kedua pendidika Islam.
4.    Kemaslahatan Masyarakat. Maslahat artinya membawa manfaat dan menjauhkan mudharat. Tegaknya manusia dalam agama, kehidupan dunia dan akhiratnya adalah  dengan berlakunya kebaikan dan terhindarnya dari keburukan. Kemaslahatan manausia tidak mempunyai batas dimana harus berbakti. Ia berkembang dan berubah dengan perubahan zaman dan berbeda menurut tempat.
5.    Nilai-Nilai Adat dan Kebiasaaan-Kebiasan Sosial. Adat dan kebiasaan tersebut tentunya yang positif. Hal ini sesuai dengan pandangan, bahwa pendidikan adalah usaha pemeliharaan, pengembangan dan pewarisan nilai-nilai budaya masyarakat yang positif.
6.    Hasil Pemikiran-Pemikiran dalam Islam. Pemikiran yang dimaksud adalah pemikiran para filosof, pemikiran pemimpin, dan intelektual muslim khususnya dalamb idang pendidikan dapat dijadikan referensi (sumber) bagi pengembangan pendidikan Islam.[13]
Berbeda dengan Ahmad  Tafsir yang menyatakan bahwa sumber Pendidikan Islam ada tiga; al-Qur’an, as-Sunnah, dan akal.
Sumber-sumber inilah yang melandasi bagi pemikiran pendidikan Islam Azyumardi Azra  sebagai cendekiawan yang rasionalis, modernis, demokratis, dan toleran sebagai pelanjut perjuangan rektor-rektor IAIN Jakarta sebelumnya yang sekaligus sebagai guru-gurunya; Prof. Dr. Harun Nasution dan H.M. Quraish Shihab.

3.              Materi/ Isi Pendidikan Islam
Allah SWT adalah sumber pendidikan utama bagi setiap Muslim. Dia memberikan pengetahuan dan pengajaran kepada manusia melalui wahyu kepada utusann-Nya. Nabi Muhammad SAW mendidik dan mengajar manusia berdasarkan cita-cita dan prinsip-prinsip ajaran Tuhan; menyuarakan dan menyiapkan penganut Islam untuk menegakkan keadilan; kesejahteraan guna terwujudnya masyarakat yang diridhai Allah.[14]
Materi pendidikan Islam dalam pandangannya sangat luas, meliputi semua ilmu. Setiap ilmu yang baik/ bermanfaat adalah Islam.  Ilmu dalam Islam semua yang ada di alam (Dunia) dengan landasan kemanfaatannya, keperluannya dan  bagi bangsa Indonesia. Pendangannya tentang materi pendidikan Islam sebagaimana para filosof terdahulu, seperti  al-Farabi, Ibn- Khaldun, Ibn Sina juga al-Ghazali, yaitu Ilmu dalam Islam ada dua sumber, pertama ayat kauniyah; ilmu yang diambil atau berasal dari alam semesta, antara lain fisika, Biologi, Matematika, Kedokteran, Humaniora dan lain sebagainya , kedua ayat kauliyah; ilmu yang diambil dari al-Qur’an dan Hadis Nabi, seperti Tafsir, Fikih, Ushul Fikih dan lain sebagainya.
Semua ilmu yang bermanfaaat bagi manusia itu Islam, sampai Keilmuan Farmasi dan Kedokteran, karena Islam itu sehat, demikian juga Teknologi sehingga lulusannya dapat membuat alat-alat untuk pemenuhan kebutuhan manusia, seperti tranportasi; pesawat boing,  sehingga ketika ke Arab untuk menunaikan haji bisa digunakan tanpa memakai dari orang-lain Islam.
Beliau menjelaskan bahwa Matematika, IPA; Fisika-Biologi, IPS, adalah ilmu-ilmu Islam yang diambil dari ayat-ayat kauniyah. Sedangkan al-Qur’an, Hadits, Tafsir, ilmu-ilmu Islam dari ayat-ayat qauliyah.[15] Dalam pendidikan harus memperhatikan aspek kognisi sehingga dengan pengetahuan dapat diinternalisasikan dalam aspek afektif lebih lanjut ilmu yang didapat mampu diamalkan (psikomotorik).

4.              Metode Pendidikan Islam
Adapun metode dan setrategi harus meliputi tiga aspek kepribadian peserta didik; Kognitif, Afektif, dan Psikomotor. Semua metode (sebagaimana dibahas di bab II) digunakan agar terjadi proses pembelajaran yang efektif dan efesien sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaran nasional.
Metode dalam pendidikan Islam harus partisipasi; peserta didik dilibatkan ikut serta secara langsung dalam memperoleh pengetahuan.  Adapun dalam penggunaan metode beliau mengingatkan agar disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Penggunaan metode yang sesuai sangat ditekankan, karena pengetahuan, nilai-nilai moral yang ada di dalamnya akan dapat dengan mudah diterima dan diamalkan oleh peserta didik.
Proses pembelajaran membutuhkan metode yang berfariasi, sehingga tidak menimbulkan kejemuan dan kebosanan bagi peserta didik. “ Peserta didik jangan hanya dijejali/ diceramahi atau menggunakan metode ceramah saja, tetapi beri ruang anak untuk berpikir, mencari sendiri dari buku-buku bacaan dan melaporkan hasilnya, mengakses internet dan lain sebagainya”.[16] Lebih lanjut ia mengatakan : “Untuk pendidikan solat, maka peserta didik langsung diajak praktek solat di Musholla atau masjid”. Dalam pendidikan Islam harus adanya ilmu juga amal, ia berpandangan bahwa keseimbangan antara teoritis dan praktis itulah Islam, dengan demikian akan memberikan manfaat baik di Dunia sampai Akhirat. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa hal-hal yang memberi manfaat (kebaikan) itulah Islam; termasuk ilmu-ilmu alam (Natural Science), seperti IPA, MIPA, Fisika, Biologi, Matematika dan lain sebagainya. Tak ketinggalan ia juga menyebutkan ilmu-ilmu sosial (Social Science) yang memberi manfaat kebaikan juga sebagai Islam; layaknya Ekonomi, Sosiologi dan lain sebagainya.[17] 
5.              Evaluasi Pendidikan Islam
Azyumardi dalam menanggapi Evaluasi dalam pendidikan Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Benjamin S. Bloom, yaitu dengan menggunakan tiga domain: aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek motorik/ psikomotor.
Pertama, aspek kognitif, penguasaan ilmu pengetahuan. Sebagaimana ajaran dasar Islam mewajibkan mencari ilmu pengetahuan bagi setiap Muslim dan Muslimat. Adapun ketercapaian dalam aspek ini dapat diketahui dengan cara tes objektif dengan memberikan tes tertulis dengan alat  pilihan ganda (multiple choice).
Kedua, Aspek afektif; setiap siswa (peserta didik) setelah mengikuti proses pembelajaran diharapkan memiliki kemampuan dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan.  “Dalam pendidikan Islam evaluasinya tidak cukup dengan pilihan ganda (multiple choice), tapi dapat dilihat dari sikap/ ranah afektif.”[18] Ilmu pengetahuan yang didapat dari pendidikan Islam terikat oleh nilai-nilai akhlak (karater) atas dasar ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, maka kejujuran, sikap tawadhu’, menghormati sumber pengetahuan merupakan prinsip-prinsip penting yang harus dipegangi oleh setiap pencari ilmu.[19] Aspek afektif evaluasinya  menggunakan jenis non-tes dengan alat observasi dan wawancara.
Ketiga, Aspek motorik; pengetahuan bukan hanya untuk diketahui, dan dikembangkan, melainkan sekaligus dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Di dalam Islam mengetahui sesuatu ilmunya pengetahuan sama pentingnya dengan pengamalannya secara kongkrit.[20]
Dengan demikian ia menginginkan keseimbangan terhadap penguasaan peserta didik dalam berbagai aspeknya; pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, keterampilan, atau dengan istilahnya tiga ranah pendidikan kognitif, afektif, dan motorik.

6.              Karakteristik Pendidikan Islam.
Pendidikan Islam memiliki ciri khas dan ini menjadi karakteristik tersendiri bagi pendidikan Islam, sebagaimana yang diungkapkan Azyumardi bahwa karakteristik pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
Pertama, penguasaan ilmu pengetahuan. Ajaran dasar Islam mewajibkan mencari ilmu pengetahuan bagi setiap Muslim dan Muslimat. Setiap Rasul yang diutus Allah lebih dahulu dibekali ilmu pengetahuan, dan mereka diperintahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Kedua, pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu yang telah dikuasai harus diberikan dan dikembangkan kepada orang lain. Nabi Muhammad sangat menekankan hal ini dengan sabdanya: “Ballighu ‘anni walau ayatan”, artinya; sampaikan dariku walau satu ayat” Sebaliknya ia sangat membenci orang yang memiliki ilmu pengetahuan, tetapi tidak mau memberi dan mengembangkannya kepada orang lain. Sabda Nabi Muhammad SAW; “Katimu al ilmi yal’anuhu kullu syai-in hatta al-hutu fi al-bahri wa al-thairu fi as-sama’, artinya: orang-orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh semua makhluk, termasuk ikan di laut dan burung di langit. ” (Riwayat Ibnu al-Jauzi dari Said)
Ketiga,  penekanan pada nilai-nilai akhlak (karakter) dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang didapat dari pendidikan Islam terikat oleh nilai-nilai akhlak (karakter). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Innama bu’istu li utammima makarima al akhlaq; artinya:  tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Karakteristik keempat, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, hanyalah untuk pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umum. Sabda Nabi Muhammad SAW: “ta’allamu min al-‘ilmi ma syi’tum fawa Allahi la tu’jaruna bijam’i al-‘ilma hatta ta’malu; artinya: tuntutlah ilmu olehmu sekalian ilmu pengetahuan itu sekehendakmu, tetapi demi Allah, mereka tidak akan memperoleh pahala karena mengumpulkan ilmu saja, tanpa diamalkan.” (HR. Abu Al-Hasan bin Khazem dari Anas)
Karakteristik kelima, adalah penyesuaian kepada perkembangan anak. Pendidikan Islam diberikan kepada anak sesuai dengan umur, kemampuan, perkembangan jiwa dan bakat anak.
Karakteristik keenam, adalah pengembangan kepribadian. Bakat alami dan kemampuan pribadi tiap-tiap anak didik diberikan kesempatan berkembang sehingga bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Pengembangan kepribadian itu berkaitan dengan seluruh nilai dan sistem Islam, sehingga setiap anak dapat diarahkan untuk mencapai tujuan Islam.
Karakteristik ketujuh, adalah penekanan pada amal saleh dan tanggung jawab. Setiap anak didorong untuk mengamalkan ilmu pengetahuan sehingga benar-benar bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat Islam secara keseluruhan. Amal saleh dan tanggung jawab itulah  yang menghantarkannya kelak kepada kebahagiaan di hari kemudian kelak. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Idza mata al-insanu inqoto’a ‘amaluhu illa min salasin sodaqotin jariatin aw ‘ilmin yuntafa’u bihi aw waladin salihin yad’u lahu: artinya: bila manusia mati, putuslah segala usahanya kecuali tiga hal: sodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

7.              Lembaga Pendidikan Islam
Menyikapi tentang lembaga pendidikan Islam Azyumardi mengutip pendapat Marimba, bahwa lembaga pendidikan adalah “Organisasi atau kelompok manusia yang karena satu dan lain hal memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan. Badan-badan itu bertugas memberi pendidikan kepada siterdidik, selanjutnya ia     mengatakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Beliau merujuk kepada zaman Rasulullah SAW ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah, maka yang pertama di bangun adalah masjid, sebagai pusat aktivitas masyarakat. [21]  
 “Lembaga pendidikan Islam ditentukan berdasarkan pandangan filosofinya Islam, yaitu yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah, adapun nama boleh yang eksplisit maupun inplisit; eksplisit artinya menampilkan/ memakai nama/ label Islam, seperti Perguruan Tinggi Islam, Madrasah. Sedangkan inplisit, artinya lembaga yang tidak menampilkan/ memakai lebel Islam, seperti Dwi Warna di Parung (kurikulumnya Islam).”[22] Lembaga-lembaga formal Islam mengambil bentuk yang bermacam-macam pada kalangan masyarakat Muslim berbagai Negara, antara lain Darul Hikmah, al-Kuttab, Madrasah, Pesantren, Sekolah Islam dan lain sebagainya.[23]
Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berusaha menciptakan situasi proses pendidikan yang berlangsung sesuai dengan tugas yang dibebankan kepadanya.
Berdasarkan fungsi dan tugas, lembaga-lembaga tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar: keluarga, sekolah-sekolah, dan badan-badan pendidikan kemasyarakatan di luar keluarga dan sekolah. Ketiga lembaga itu disebut sebagai tripusat pendidikan, yang merupakan satu  kesatuan yang saling membantu dan mendukung dalam usaha memberikan pendidikan.

a)             Keluarga
Keluarga adalah lembaga pendidikan informal yang sangat penting dalam membentuk generasi muda muslim.
Pendidikan informal adalah kegiatan pendidikan yang tidak diorganisasi  secara struktural dan sama sekali tidak  mengenal penjenjangan kronologis menurut tingkatan umum maupun tingkatan keterampilan dan pengetahuan.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak/ peserta didik dan merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya. Apa yang terjadi dalam keluarga merupakan proses pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak/ peserta didik selanjutnya. Oleh karena itu, sikap keagamaan, akhlak, akal pikiran, tingkah laku sosial dan budaya anak banyak dibentuk dan dipengaruhi oleh pendidikan dalam keluarga. Jadi karakter anak, baik-tidaknya banyak ditentukan oleh keluarga, maka fungsi dan tugas keluarga adalah menanamkan dan membentuk serta menjaga anak agar memiliki karakter yang baik.
Dalam mempertegas fungsi dan tugas keluarga  dalam pendidikan, Azyumardi mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya: ”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci sampai ia dapat berbicara. Maka orang tuanyalah yang me-yahudi-kannya, me-nasrani-kannya, dan me-majusi-kannya.”[24] (H.R. Muslim).
Sebagaimana Mahmud Syaltut, muthahhari, dan juga Quraish Shihab, Azyumardi menyatakan bahwa keluarga merupakan basis dari ummah (bangsa); dan karena itu keadaan keluarga sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri. Bangsa terbaik (khayr ummah) yang merupakan  ummah wahidah (bangsa yang satu) dan ummah wasath (bangsa yang moderat), sebagaimana dicita-citakan Islam hanya dapat terbentuk melalui keluarga yang dibangun dan dikembangkan atas dasar mawaddah wa rahmah.
          Menegaskan tentang keluarga, Azyumardi mengutip hadits yang diriwayatkan Anas r.a, keluarga yang baik memiliki empat ciri. Pertama; keluarga yang memiliki semangat (ghirah) dan kecintaan untuk mempelajari dan menghayati ajaran-ajaran agama dengan sebaik-baiknya untuk kemudian mengamalkan dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, keluarga di mana setiap anggotanya saling menghormati dan menyayangi; saling asah dan asuh. Ketiga, keluarga yang dari segi nafkah (konsumsi) tidak berlebih-lebihan; tidak ngoyo atau tidak serakah dalam usaha mendapatkan nafkah; sederhana atau tidak konsumtif dalam pembelanjaan. Keempat, keluarga yang sadar akan kelemahan dan kekurangannya; dan karena itu selalu berusaha meningkatkan ilmu dan pengetahuan setiap anggota keluarganya melalui proses belajar dan pendidikan seumur hidup (life long learning), min al-mahdi ila al-lahdi (sejak lahir hingga liang lahat; kubur).[25]
Adapun selain orang tua dalam memberikan pendidikan hanya sebagai keikutsertaan. Namun karena keterbatasan orang tua dalam mendidik, sehingga telah menjadi umum orang tua  memberikan kepercayaan kepada sekolah/ guru.

b)             Sekolah-Sekolah
Pendidikan sekolah adalah pendidikan formal dalam arti, pendidikan yang mempunyai dasar, tujuan, isi, metode, alat-alatnya disusun secara eksplisit, sistematis, dan distandarisasikan.[26]
Dengan lengkapnya unsur-unsur pendidikan di sekolah diharapkan mampu menyempurnakan pendidikan yang telah dilaksanakan di keluarga dan seyogyanya tidak boleh berlawanan/ bertentangan dengan yang diajarkan di keluarga.
Di sekolah dasar, bagi peserta didik diberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan, selanjutnya pengetahuan umum yang diberikan haruslah berfungsi untuk melatih dan menyiapkan anak/ peserta didik untuk mampu berpikir dan bekerja.
Dalam pandangan Azyumardi, usaha yang mesti dilakukaan dalam rangka memajukan masa depan pendidikan Islam adalah dengan cara mengintegrasikan  ajaran-ajaran ideologi dan pandangan Islam secara menyeluruh ke dalam mata pelajaran (subject matter) ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah, antara lain melalui mengintegrasikan nilai-nilai dan ideologi Islam ke dalam teori-teori ilmu sosial, Kemanusiaan, Filsafat, Sosiologi dan Kebijakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagaimana yang telah dirumuskan dalam Konferensi Pendidikan Islam se-Dunia di Jeddah tanggal 31 Maret – 8 April 1977.[27] Di samping itu juga mestilah memberikan pendidikan keagamaan, akhlak, sesuai dengan ajaran-ajaran agama (pendidikan nilai).
Sekolah sebagai lembaga pendidikan. Sekolah, pada hakikatnya bukanlah sekedar tempat “transfer of knowledge” belaka. Azyumardi mengutip Fraenkel:
‘Sekolah tidaklah semata-mata tempat di mana guru menyampaikan pengetahuan melalui berbagai mata pelajaran. Sekolah juga adalah lembaga yang mengusahakan usaha dan proses pembelajaran yang berorientasi pada nilai (value-oriented enterprise)’. Lebih lanjut, Fraenkel mengutip John Childs yang menyatakan: ‘Organisasi sebuah sistem sekolah dalam dirinya sendiri merupakan sebuah usaha moral (moral enterprise), karena ia merupakan usaha sengaja masyarakat manusia untuk mengontrol pola perkembangannya’.[28]

Pembentukan watak dan pendidikan karakter melalui sekolah, dengan demikian, tidak bisa dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi adalah melalui penanaman atau pendidikan nilai-nilai.
Kajian tentang nilai biasanya mencakup dua bidang pokok, estetika, dan etika (atau akhlak, moral, budi pekerti). Estetika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi terhadap apa yang dipandang manusia sebagai “Indah”, apa yang mereka senangi. Sedangkan etika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi terhadap tingkah laku yang pantas berdasarkan standar-standar yang berlaku dalam masyarakat, baik yang bersumber dari agama, adat istiadat, konvensi, dan sebagainya. Dan standar-standar itu adalah nilai-nilai moral atau akhlak tentang tindakan mana yang baik dan mana yang buruk.[29]

Pembentukan watak dan pendidikan karakter pada peserta didik merupakan keniscayaan dan sesuatu yang sangat mendesak dengan penanaman nilai-nilai akhlak melalui pendidikan agama dan budi pekerti (penguasaan ilmu pengetahuan), serta teladan dari para pendidik (orang tua, guru, dan masyarakat) tentang sikap, perasaan dan intuisi baik itu berasal dari adat istiadat masyarakat setempat ataupun lingkungan masyarakat luas.
Ilmu tidak hanya untuk ilmu tapi juga dapat berpartisipasi dalam kehidupan. ”Pengamalan ilmu pengetahuan atas dasar tanggung jawab kepada Tuhan dan masyarakat manusia merupakan karakteristik pendidikan Islam …pengetahuan bukan hanya untuk diketahui dan dikembangkannya, melainkan sekaligus dipraktikkan dalam kehidupan nyata…konsistensi antara apa-apa yang diketahui  dengan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari…di dalam Islam mengetahui sesuatu ilmu pengetahuan sama pentingnya dengan pengamalannya secara kongkret ”.[30] hal ini membuktikan bahwa dalam pemikirannya harus ada keseimbangan antara ilmu teoritis/ konsep dan praktis, jiwa dan raga, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat.


c)              Badan-Badan Pendidikan Kemasyarakatan di Luar Keluarga dan Sekolah.
Lembaga pendidikan ini berorientasi langsung kepada hal-hal yang bertalian dengan kehidupan. Pendidikan masyarakat merupakan pendidikan yang menunjang pendidikan keluarga dan sekolah.
Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan Islam ini menjadi sarana pengembangan pribadi ke arah kesempurnaan sebagai hasil dari pengumpulan dan latihan secara terus-menerus. Bahkan pendidikan kemasyarakatan Islam  dewasa ini banyak menekankan kepada kebutuhan praktis ekonomis, baik dalam bidang sosial, budaya maupun agama.
Lembaga pendidikan kemasyarakatan Islam dapat mengambil bentuknya, berupa; organisasi, kepanduan, perkumpulan pemuda, olah raga, kesenian, remaja masjid, majlis taklim, koperasi, pusat keterampilan dan latihan, partai politik, perkumpulan agama dan lain-lain.[31]
Lingkungan masyarakat luas jelas memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai estetika dan etika untuk pembentukan karakter. Dari perspektif Islam, menurut Quraish Shihab, situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. [32]
Peran serta masyarakat muslim dalam pendidikan atau perguruan keagamaan sangat signifikan bahkan sangat dominan. Hal ini ditandai dengan banyak masyarakat Muslim yang mengambil posisi terdepan dalam pendirian, pengembangan dan pemberdayaaan pendidikan keagamaan.[33] Azyumardi membuat kerangka peran serta masyarakat dalam peberdayaan pendidikan, antara lain;
1)      Peningkatan peran serta masyarakat dalam pemberdayaan manajemen pendidikan; segi financial dan organisasi.
2)      Peningatan peran serta masyarakat dalam pengembangan  pendidikan/ perguruan  Islam yang quality oriented, yakni pendidikan yang berkualitas dan berkeunggulan.
3)      Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar belajar lain yang terdapat dalam masyarakat.[34]
Melayani masyarakat dengan pendekatan Islam, dengan mempraktikkan ilmu pengetahuan, maka akan memberikan manfaat kebaikan kepada masyarakat, tentunya dengan norma-norma yang diajarkan oleh Islam, sebagaimana ilmu kedokteran adalah Islam, oleh karenanya orang Islam harus sehat, harus bersih dan orang Muslim harus mampu memanfaatkan alat-alat kedokteran, sehingga orang Islam bila berobat tidak kepada orang non-Islam. Lebih lanjut Azyumardi dalam mengomentari tentang dokter kandungan harusnya orang perempuan, inilah yang Islam, sesuai dengan fitrahnya ngurusi tentang kewanitaan, bertentangan dengan kodratnya bila dokternya laki-laki.[35]
Pengembangan pendidikan Islam lulusannya harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan sehingga dapat bersaing dengan perkembangan global.[36] Umat Islam harus mampu bersaing dalam dunia global, “Jika kaum Muslimin, termasuk Indonesia-tidak hanya ingin sekedar survive ditengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, tetapi juga berharap mampu tampil ke depan, maka reorientasi pemikiran mengenai pendidikan Islam dan restrukturisasi sistem dan kelembagaan jelas merupakan keniscayaan. Cara pandang yang menganaktirikan  iptek tampak tidak bisa dipertahankan lagi.[37]Ia membuktikan ucapannya tersebut dengan merubah perguruan tinggi IAIN menjadi UIN; hal ini mengharuskan dibukanya fakultas-fakultas yang bermuatan ilmu-ilmu umum, disamping ilmu-ilmu agama.
Dibukanya fakultas-fakultas umum di UIN Jakarta karena banyak dari sekolah yang semula banyak mengajarkan agama, seperti MAN atau sejenisnya telah banyak mengajarkan ilmu-ilmu  umum  sehingga bila UIN tetap memakai paradigma lama, maka akan kehilangan mahasiswanya.
Dengan dibukanya fakultas-fakultas yang bermuatan ilmu-ilmu  umum disamping ilmu-ilmu agama, memungkinkan peluang lulusannya untuk dapat memasuki departemen-departemen yang lebih banyak lagi disamping departemen agama.

C.           Perguruan Tinggi / Universitas Islam Negeri (UIN)
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) merupakan perkembangan lanjutan dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)[38] yang terletak di Yogyakarta dan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta yang  didirikan taggal 1 Juni 1957.[39]
Didirikannya IAIN dengan maksud untuk memperbaiki dan memajukan pendidikan tenaga ahli agama Islam guna  keperluan pemerintah dan masyarakat, disamping itu pasal 2 Peraturan Presiden No. 11 tahun 1960 tentang Pembentukan  IAIN ditegaskan, Institut Agama Islam Negeri bermaksud untuk memberikan pengajaran tinggi dan menjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama. Dengan mempertinggi taraf pendidikan dalam lapangan agama ilmu  pengetahuan  Islam adalah berarti mempertinggi taraf kehidupan  bangsa Indonesia dalam lapangan kerohanian (spiritual) dan ataupun dalam taraf intelektualismenya.[40]
Dengan landasan diatas, maka IAIN harus mampu memberikan respon dan jawaban terhadap tantangan-tantangan zaman, oleh karena itu IAIN memiliki tanggung jawab kepada pemerintah dan kepada masyarakat. Tanggung jawab kepada pemerintah yang disebut academic expectations, yaitu berupa mengembangkan dirinya sebagai pusat studi dan pengembangan  Islam, dan yang lainnya adalah tanggung jawab kepada masyarakat yang disebut dengan social expectations, yaitu berupa memberikan warna dan pengaruh ke-Islam-an  kepada masyarakat Islam secara keseluruhan.[41]
Ditangan Azyumardi, IAIN dikenal sebagai “Kampus Pembaharu” yang akan menyumbangkan pembaharuan dalam bidang akademik maupun pemikiran perubahan bagi masyarakat. Dalam bidang akademik ia berusaha menghilangkan dikotomisasi ilmu pengetahuan dengan cara mengintegrasikan  ilmu pengetahuan  agama dengan ilmu pengetahuan umum, “Untuk tahap ini, secara akademik saya sedang berupaya menghapus kesan dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum, saya mencoba mengintegrasikannya.” tukas Azyumardi.[42]
Pergantian IAIN menjadi  UIN adalah perubahan yang sangat positip, dengan menjadi universitas  bisa menentukan kurikulum secara mandiri baik kurikulum yang berhubungan dengan ilmu agama maupun ilmu umum, karena perkembangan  keilmuan selama ini terjadi dikotomisasi antara keduanya.[43] Maka dengan perubahan ini akan memberikan peluang yang besar untuk mengintegrasikan  ilmu pengetahuan sehingga akan menguntungkan kepada para lulusannya karena mendapatkan peluang kerja yang lebih banyak lagi. Disamping itu Dengan perubahan IAIN menjadi universitas untuk menegaskan kembali bahwa ilmu Islam sangat luas, mencakup pula ilmu umum yang bermanfaat bagi kepentingan umat manusia, dan karenanya, menyumbang sangat besar bagi peradaban umat manusia.
Perubahan ini sebagai kelanjutan dari ide rektor pendahulu dan sekaligus gurunya  yaitu Prof. Dr. Harun Nasution,  ia menginginkan lulusan IAIN haruslah orang yang berpikiran  rasional, modern, demokratis, dan toleran. “ Pak Harun ingin lulusan IAIN memiliki pandangan luas dan komprehensif tentang Islam, tidak sepotong-sepotong. Islam tidak boleh dianggap sebagai doktrin saja, tetapi juga realitas historis yang memengaruhi masyarakat,” komentar Azyumardi.[44] lulusan yang tidak membedakan ilmu agama dan ilmu umum, tidak memahami agama secara literer, menjadi Islam yang rasional  bukan Islam yang madzhabi atau terikat pada madzhab tertentu saja.[45]
Dengan berubahnya IAIN menjadi UIN, maka bermunculanlah fakultas Sains, Ekonomi, Teknologi, MIPA, Komunikasi, Matematika, dan lain-lain. Pandangan Azyumardi terhadap kurikulum perguruan tinggi di zaman yang modern ini harus ditingkatkan dan diberi masukkan yang  beragam, berbobot dan menarik, sedikit tapi bernilai serta tidak menjadi beban bagi para mahasiswa. “Menurut hemat saya, di zaman modern ini, sistem pendidikan Islam harus diperbaharui; kurikulum harus ditingkatkan  dengan memasukkan topik-topik beragam, berbobot , menarik.”[46] Kurikulum harus disederhanakan, mata kuliah tidak mesti banyak,  sedikit tapi mendalam, ia menjelaskan bahwa mata kuliah tidak usah banyak-banyak yang akhirnya akan menjadikan beban bagi mahasiswa, sebagaimana contoh ia menyebutkan seperti di Sekolah Pascasarjana[47] cukup tiga sampai lima mata kuliah saja, yang dibesarkan bobot SKS-nya (dari 3-6).[48] Idealnya beban mahasiswa setiap semester tidak lebih dari 5 mata kuliah (antara 3-5).[49]
Dengan perubahan tersebut, maka akan dapat menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dengan pasar global di zaman modern ini. Untuk itu para pendidik dan tenaga kependidikan juga harus ditingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnya dengan cara pengiriman ke universitas-universitas besar di Barat dimana mereka akan mendapat pelatihan dalam pengajaran dan metodologi penelitian, interpretasi dan analisis.
Pendidikan Islam dalam pandangan Azyumardi haruslah melakukan perubahan secara signifikan. Adapun untuk mencapai perubahan pendidikan Islam itu, dengan cara perubahan dalam pemikiran dan kelembagaan. Pemikirannya  harus bebas, rasional, modern, demokratis dan toleran (Sebagaimana Puncak Kejayaan/ Keemasan Islam di Zaman Klasik).
Sedangkan secara kelembagaan ia mengutip Shipman bahwa kelembagaan memiliki tiga fungsi; sosialisasi, penyekolahan (schooling), dan pendidikan (education).  Sosialisasi bermaksud pendidikan sebagai wahana integrasi bagi anak didik (peserta didik) ke dalam nilai-nilai kelompok atau nasional yang dominan. Adapun penyekolahan (schooling) berarti mempersiapkan peserta didik untuk menduduki posisi sosial-ekonomi tertentu. Begitu juga dengan education atau pendidikan, yaitu untuk menciptakan kelompok elit.[50]
Untuk mewujudkan perubahan tersebut, maka  dalam masa kepemimpinannnya sebagai pelanjut perjuangan  rektor sebelumnya, pada tahun 1998 telah ada sekitar 140-an dosen IAIN Jakarta yang sedang menyelesaikan program S2 dan S3, baik di dalam maupun di luar negeri.
Pengiriman dosen dalam peningkatan kualitas pendidik tersebut ada dua kecenderungan; pertama, untuk ilmu-ilmu agama, seperti Tafsir, Fiqih, atau Hadis kami mengirimnya ke Timur Tengah, seperti Universitas Al-Azhar  dan Universitas  Madinah. Kedua, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan  ilmu-ilmu sosial  dan humaniora yang lain, metodologi dan pengembangan keilmuan, kami mengirim ke Barat.[51]
Sifat dari kedua kubu (Timur Tengah- Barat) tersebut memang berbeda; Universitas di Timur Tengah  lebih menekankan  pada penguasaan teks atau hafalan; ilmu diletakkan dalam hati (al-‘ilm fi al-shudur), bukan di atas kertas sehingga ilmu sepenuhnya dimiliki dan diinternalisasikan akibatnya cenderung normatif. Sedangkan di Barat  lebih menekankan pada metodologi, pegembangan sikap kritis dan analitis, lebih mementingkan nalar sehingga polanya cenderung liberal.[52]
Menurut Azyumardi, Idealnya pengiriman dosen program S2 dan S3 ini keduanya bisa dipadukan, misalnya S2 di Timur Tengah, sedangkan S3-nya dilanjutkan di Barat. Dengan perpaduan ini, maka jelas akan dapat menghasilkan kualitas dosen-dosen  yang ahli dalam keilmuan dan serta memiliki sikap kritis dan analitis yang tajam. Dengan kualitas dosen-dosen yang lulusan luar negeri itulah sehingga membuat horizon keilmuan yang diterima mahasiswa  jelas akan lebih plural dan kompleks.
 Diharapkan wawasan ke-Islam-an akademik yang dikembangkannya  harus memiliki wawasan ke-Indonesia-an sebab hidup kampusnya di Indonesia, “Jadi, ke-Islam-an yang akan kita kembangkan itu adalah ke-Islam-an yang konstekstual dengan Indonesia karena tantangan umat Muslim di sini adalah tantangan Indonesia,” ujarnya.[53]
Pembentukan watak dan pendidikan karakter melalui sekolah, dengan demikian, tidak bisa dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi adalah melalui penanaman atau pendidikan nilai-nilai. Dalam hal ini merupakan tanggungjawab bersama, masyarakat meliputi tenaga pendidik, orangtua, anggota masyarakat, dan peserta didik itu sendiri. Semua komponen tersebut hendaknya dapat bekerja sama  dan saling membantu memberikan masukan, terutama mengenai langkah-langkah penanaman karakter bagi peserta didik.[54] Kajian tentang nilai biasanya mencakup dua bidang pokok, estetika, dan etika (atau akhlak, moral, budi pekerti). Estetika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi terhadap apa yang dipandang manusia sebagai “Indah”, apa yang mereka senangi.
Sedangkan etika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi terhadap tingkah laku yang pantas berdasarkan standar-standar yang berlaku dalam masyarakat, baik yang bersumber dari agama, adat istiadat, konvensi, dan sebagainya. Dan standar-standar itu adalah nilai-nilai moral atau akhlak tentang tindakan mana yang baik dan mana yang buruk.[55] Pendidikan nilai tersebut akan dapat   membentuk karakter bagi peserta didik, pembentukan karakter dalam diri individu, merupakan fungsi dari seluruh potensinya (kognitif, afektif, maupun psikomotorik), dalam konteks interaksi kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) yang berlangsung sepanjang hayat.
Azyumardi memandang dalam pencarian, penguasaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam pendidikan Islam sangat menekankan pada nilai-nilai akhlak (karakter). Sebagaimana nilai-nilai kejujuran, sikap tawadhu’, menghormati sumber pengetahuan dan sebagainya yang merupakan prinsip-prinsip penting yang perlu dipegangi setiap pencari ilmu, dan Azyumardi menambahkan bahwa pencari ilmu pun perlu dihormati dan disantuni, agar potensi-potensi (kognitif, afektif, dan motorik) yang dimilikinya dapat teraktualisasi dengan sebaik-baiknya.
Demikian dengan pencarian, penguasaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan merupakan proses kerkelanjutan dan berkesinambungan yang pada prinsipnya berlangsung seumur hidup yang dikenal dengan istilah long life education (pendidikan sepanjang hayat).


[1] Azyumardi Azra, Esai-esai Pendidikan Islam dan Cendekiawan Muslim, (Jakarta: Logos, 1999), h. 5
[2] http:www.Scribd. Com/doc/ reformasi-pendidikan-suatu-keharusan dikutip tgl 15 Februari 2012
[3] Azyumardi Azra, Op. cit., h. 3
[4] Ibid., h. 5
[5] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[6] Azyumardi Azra, Loc. cit
[7] Ibid.
[8] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[9] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[10] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[11] Azyumardi Azra, Op. cit, h. 7
[12] Ibid., h. 8
[13] Ibid., h. 9-11
[14] Ibid., h. 8
[15] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[16] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[17] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[18] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[19] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 10
[20] Ibid.
[21] Sesungguhnya dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW, maka dapat diambil pelajaran ketika sebelum hijrah yaitu dengan menyampaikan/ menyeru kepada tauhid (mengesakan Tuhan) dilanjutkan dengan melakukan pembinaan kepada pribadi-pribadi muslim (dari rumah ke rumah); yang pelaksanaannya menggunakan rumah Arqam Bin Arqam,
[22] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[23] Azyumardi Azra, Esai, Op. cit, h. 17
[24] Ibid., h. 16
[26] Azyumardi Azra, Esai, Op. cit, h. 17
[27] Ibid., h. 5
[29] Ibid.
[30] Azyumardi Azra,  dalam  Abudin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia ; (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, 2005), h. 407
[31]Azyumardi Azra, Esai, Op. cit., h. 18
[33] Azyumardi Azra, Pendidikan Op.cit., h. 10
[34] Ibid., h. 153
[35] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari selasa, 21 Februari 2012
[36] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari selasa, 21 Februari 2012
[37] Azyumardi Azra, Pendidikan, Loc. cit
[38] PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, didirikan  pada tahun 1950 di Yogyakarta
[39] Azyumardi Azra, Pendidikan, Op. cit.,  h. 159
[40] Ibid., h. 161
[41] Ibid.
[42] http://www.facebook.com dikutip  tanggal 4 maret 2012
[43] http://www.Researchgate.net/publication-studi-pemikiran dikutip tanggal 21 Februari 2012
[44] Andina Dwifatma, Cerita Azra; Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra, (Jakarta: Erlangga, 2011), h. 73

[45] http://azyumardiazra.net/index.php?option=com  dikutip tanggal  27 maret 2012
[46] Azyumardi Azra, Pendidikan, Op. cit. , h. 28
[47] Ia (Azyumardi Azra) sekarang menjabat sebagai direkturnya; Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
[48] Hasil wawancara dengan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 21 Februari 2012
[49] Azyumardi Azra dalam  Abudin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia , (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, 2005), h. 410
[50] Azyumardi Azra, Pendidikan , Op. cit., h. 32
[51] Azyumardi Azra, Islam Substantif; Agar Umat Tidak Jadi Buih, (Bandung: Mizan, 2000), cet. Ke-1, h. 427
[52] Ibid.
[53] http://hmikofah-cabangciputat.blogspot.com  dikutip  tanggal 27 maret 2012
[54] Nurla Isna Aunillah, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah, (Yogyakarta: Laksana, 2011), h. 108

1 komentar: